RADAR SIDOARJO - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menyentuh level Rp 18.095,70 per dolar menjadi perhatian berbagai kalangan.
Kondisi tersebut dinilai tidak hanya berdampak pada dunia usaha dan perdagangan, tetapi juga berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat serta perekonomian keluarga.
Baca Juga: Dongkrak UMKM Bengkel, Bupati Sidoarjo Siapkan Event Komunitas Motor Dua Kali Setahun
Menanggapi situasi tersebut, Ketua DPRD Sidoarjo Abdillah Nasih mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan, mengutamakan kebutuhan pokok, serta meningkatkan kecintaan terhadap produk-produk lokal, khususnya hasil karya pelaku UMKM Sidoarjo.
Menurutnya, pelemahan rupiah harus disikapi dengan langkah yang tepat agar dampaknya tidak semakin membebani kondisi ekonomi masyarakat.
Baca Juga: Wabup Mimik Dorong ASN Pakai Produk UMKM Sidoarjo, Sepatu Kulit Krian Sudah Tembus Malaysia
“Ya, jelas ini menjadi perhatian dan keprihatinan kita bersama. Dampaknya dirasakan oleh semua lapisan masyarakat, mulai dari masyarakat bawah hingga para pejabat,” ujar Nasih, Minggu (7/6).
Politisi PKB yang akrab disapa Cak Nasih itu menilai masyarakat perlu menyesuaikan pola konsumsi dengan lebih memprioritaskan kebutuhan primer dibandingkan kebutuhan sekunder maupun tersier.
Baca Juga: Sidak Alun-Alun Sidoarjo, Wabup Mimik Usulkan UMKM Tetap Boleh Berjualan dengan Penataan Tertib
“Harapan kami kepada masyarakat adalah agar lebih bijak dalam berbelanja, bijak dalam menggunakan waktu, serta bijak dalam memenuhi kebutuhannya. Utamakan terlebih dahulu kebutuhan yang bersifat primer. Untuk kebutuhan sekunder maupun tersier, mungkin bisa ditunda terlebih dahulu,” katanya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergoda membeli produk impor, barang mewah, maupun produk bermerek yang sebenarnya bukan kebutuhan mendesak.
Baca Juga: Harga Plastik Naik, Disperindag Imbau UMKM Sidoarjo Beralih ke Kemasan Alternatif
“Jangan sampai kita tergoda oleh merek-merek ternama, barang-barang mewah, ataupun produk luar negeri,” tegasnya.
Cak Nasih menilai situasi pelemahan rupiah justru dapat menjadi momentum untuk memperkuat perekonomian daerah melalui peningkatan konsumsi produk dalam negeri. Dengan membeli produk lokal, khususnya produk UMKM Sidoarjo, perputaran uang akan tetap berada di dalam negeri dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
“Mari kita jadikan kondisi ini sebagai hikmah untuk lebih mencintai produk dalam negeri, khususnya produk-produk Sidoarjo yang harganya lebih terjangkau namun kualitasnya juga tidak kalah bagus,” ujarnya.
Menurut Ketua DPC PKB Kabupaten Sidoarjo tersebut, meningkatnya penggunaan produk lokal akan menciptakan efek berganda yang mampu menggerakkan roda perekonomian daerah dan membuka lebih banyak peluang usaha.
“Jika perputaran uang tetap berada di dalam negeri, ekonomi kita bisa saling menopang dan memberikan multiplier effect bagi masyarakat. Dengan begitu, UMKM Indonesia, khususnya di Sidoarjo, memiliki kesempatan untuk semakin berkembang dan bergairah,” jelasnya.
Selain mengutamakan produk lokal, Cak Nasih juga mengingatkan pentingnya membangun kembali budaya menabung di tengah kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian. Menurutnya, kebiasaan menabung yang dahulu sering diajarkan orang tua merupakan langkah sederhana namun efektif untuk menghadapi berbagai kebutuhan mendesak di masa depan.
“Kedua, bijaklah dalam berbelanja dengan mengutamakan kebutuhan primer. Ketiga, jangan boros. Mari menghidupkan kembali nasihat orang tua kita dahulu, yaitu gemar menabung,” tuturnya.
Ia menambahkan, tabungan dapat menjadi cadangan keuangan ketika sewaktu-waktu muncul kebutuhan mendesak yang memerlukan biaya tidak sedikit.
Karena itu, ia berharap masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan pengeluaran yang tidak perlu. Dengan hidup lebih hemat, mencintai produk lokal, serta memperkuat budaya menabung, masyarakat diyakini akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan ekonomi di tengah pelemahan nilai tukar rupiah. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista