Kerja sama dengan badan PBB yang fokus pada program pembangunan itu akan menyasar terkait pengelolaan limbah pasar tradisional di Sidoarjo. Selasa (6/9), tim dari UNDP Indonesia, DLHK dan konsultan juga telah meninjau Pasar Taman, di Kecamatan Taman.
Perwakilan UNDP Indonesia, Andrys Erawan mengungkapkan, kunjungan itu bakal menjadi bahan untuk merumuskan konsep atau prototipe pengelolaan limbah pasar yang relevan. Selain dari hasil peninjauan, tim juga bakal berdiskusi dengan sejumlah pihak terkait lain. Seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan, pelaku usaha, hingga pedagang pasar.
“Nanti akan menghasilkan konsep yang relevan,” terangnya.
Andrys menambahkan, perumusan pengelolaan limbah pasar itu juga untuk mendukung program pemerintah Indonesia untuk pemulihan ekonomi selepas pandemi Covid-19. Khususnya di lingkungan pasar tradisional.
“Pasar itu juga ada lingkungannya, salah satunya pulih dengan lingkungan yang lebih hijau, lebih bersih,” tuturnya.
Jika penyusunan konsep rampung, maka akan diimplementasikan. Program itu juga dilaksanakan di tiga kota besar di Indonesia. Yaitu Jabodetabek, Bandung Raya dan Surabaya Raya.
Saat ini sampah jadi masalah yang klasik di lingkungan perkotaan. Misalnya di Sidoarjo, setiap hari ada sekitar 600 ton sampah dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jabon.
Korwil Pasar Taman, Budi Pribadi menambahkan, sementara di Pasar Taman setiap harinya menghasilkan 10-12 ton sampah. Sampah itu juga beragam. Dari yang organik maupun non organik. “Di pasar ini ada 2.500 pedagang,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala DLHK Sidoarjo M Bahrul Amig menambahkan, pengeloaan sampah memang tidak bisa diselesaikan oleh Pemkab saja. Artinya membutuhkan kolaborasi yang bagus dengan berbagai elemen dan pihak di masyarakat. “Perlu dukungan masyarakat dan stakeholder lain juga,” sebutnya. (son/vga) Editor : Vega Dwi Arista