Darjo Nyel Ekonomi & Bisnis Features Jatim Kota Delta Kriminal Delta Lifestyle Pendidikan Peristiwa Person of The Year Politika Sport & Health

Ribuan Siswa SMP/MTs Sidoarjo Tak Melanjutkan ke Jenjang SMA/SMK

M Saiful Rohman • Selasa, 26 Agustus 2025 | 20:33 WIB

MENJADI PERHATIAN: Sejumlah siswa SMP di Sidoarjo saat pulang sekolah. (M SAIFUL ROHMAN/RADAR SIDOARJO)
MENJADI PERHATIAN: Sejumlah siswa SMP di Sidoarjo saat pulang sekolah. (M SAIFUL ROHMAN/RADAR SIDOARJO)
 

RADAR SIDOARJO - Angka siswa lulusan SMP dan MTs di Sidoarjo yang tidak melanjutkan ke jenjang SMA/SMK/MA masih cukup tinggi. Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) Sidoarjo per Juni 2025 mencatat, terdapat 1.568 lulusan SMP dan 408 lulusan MTs yang berhenti sekolah.

Kabid Mutu Pendidikan Dispendikbud Sidoarjo, Netti Lastiningsih, mengatakan jumlah tersebut memang masih besar. Namun jika dibandingkan tahun sebelumnya, angka Anak Tidak Sekolah (ATS) mengalami penurunan cukup signifikan.

“Kalau dulu anak SMP yang tidak melanjutkan sekolah ada 2.068, kini tinggal 1.568 anak. Artinya turun sekitar 500 anak atau 24 persen,” jelas Netti, Selasa (26/8).

Dari total 1.568 ATS lulusan SMP, mayoritas masuk kategori Lulus Tapi Tidak Melanjutkan (LTM) sebanyak 1.086 anak. Sedangkan yang benar-benar putus sekolah mencapai 482 anak.

Kondisi serupa terjadi di MTs. Dari 408 ATS, sebanyak 238 anak tercatat LTM, sementara 170 anak dinyatakan putus sekolah atau drop out (DO). “Ini juga turun drastis, dari semula 1.088 anak kini tinggal 408 anak, atau menurun 62 persen,” tambahnya.

Menurut Netti, persoalan terbesar ada di masa transisi dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA. “Banyak siswa sudah menyelesaikan pendidikan menengah pertama, tapi terhenti ketika harus melanjutkan ke jenjang berikutnya,” ujarnya.

Padahal, lanjut dia, pendidikan SMA/SMK/MA sangat penting untuk membekali anak dengan keterampilan sebelum masuk dunia kerja maupun perguruan tinggi. Jika berhenti di SMP/MTs, mereka akan lebih rentan menghadapi persoalan sosial dan ekonomi di kemudian hari.

Ada berbagai faktor yang memicu tingginya angka ATS tingkat SMP/MTs, di antaranya anak harus membantu orang tua bekerja, rendahnya minat melanjutkan sekolah, serta pilihan bersekolah di jalur nonformal seperti pondok pesantren.

“Dari total ATS, Sidoarjo kini berada di peringkat 13 tertinggi di Jawa Timur. Karena itu, persoalan ini harus menjadi perhatian bersama,” tegasnya.

Untuk menekan angka ATS, pihaknya melakukan berbagai upaya seperti jemput bola ke desa, pendataan by name by address, serta memfasilitasi anak agar bisa bersekolah di lembaga terdekat. “Kami juga menyasar daerah pinggiran dan perbatasan, serta bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memperkuat pendataan dan penjangkauan,” pungkas Netti. (sai/vga)

Editor : Vega Dwi Arista
#SMA #SMK #SMP #MTs #Siswa #jenjang #Sekolah