Darjo Nyel Ekonomi & Bisnis Features Jatim Kota Delta Kriminal Delta Lifestyle Pendidikan Peristiwa Person of The Year Politika Sport & Health

Jejak Sejarah di Sidoarjo: MBO Tempat Kiai Susun Strategi Perang 10 November 1945

Vega Dwi Arista • Sabtu, 11 November 2023 | 00:06 WIB
Mas Husein
Mas Husein

Oleh :
Mas Husein
Alumni Sejarah IKIP Surabaya dan Kepala SMPN 3 Waru

Banyak saksi dan bukti sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Salah satu bukti sejarah itu adalah sebuah bangunan kuno yang dikenal dengan nama Markas Besar Oelama (MBO). Rumah kuno berarsitektur bangunan khas zaman kolonial Belanda itu menjadi saksi perjuangan bangsa, terutama dari kalangan santri, yang belum banyak dikenal. Semoga artikel ini sedikit menguak dan menambah data tentang cerita di balik peristiwa perang 10 November 1945 di Surabaya yang sangat heroik itu.

Lokasinya berada di Jalan Satria No 181 RT 17 RW 03 Kedungrejo, Waru, Sidoarjo, Jawa Timur. Tepatnya di sebuah gang kecil, di belakang Pabrik Paku Waru.

Berbentuk rumah kuno dengan ukuran sekitar 15 meter x 8 meter.  Saat ini dinding temboknya sudah banyak yang  mengelupas dimakan usia sehingga bata merahnya terlihat jelas dari luar. Bagian depan terdiri dari dua lantai. Dulu, lantai bawah digunakan sebagai tempat menyusun strategi perang, sedangkan lantai dua digunakan untuk shalat.
Saat ini lantai dua  bangunan tersebut sudah tidak bisa ditapaki lagi karena baik kayu maupun temboknya lapuk dan rawan ambrol. Bagian belakang, seperti dapur dan kamar mandi, juga sudah tak bisa digunakan lagi.

Di depan bangunan itu ada papan berlatar hijau dengan tulisan: "Markas Besar Oelama". Di atas tulisan itu ada lambang Nahdlatul Ulama (NU). Di sisinya, terpasang bendera merah putih. Papan nama tersebut dipasang beberapa tahun silam saat kepanitiaan renovasi sudah dibentuk oleh PWNU Jawa Timur.

Semula gedung itu hanya berfungsi sebagai rumah H Rais, seorang pengusaha perlengkapan dan aksesoris dokar dan kuda.

Namun berkat kemurahan hati  pemiliknya yang mempersilakan para kiai untuk bermusyawarah dalam menghadapi perang, akhirnya dijadikan markas utama pertemuan para kiai yang dipimpin oleh KH Bisri Syansuri atas perintah Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari. Sekaligus sebagai tempat persinggahan Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari dan KH Wahab Chasbullah selaku pemimpin komando Barisan Mujahidin untuk membahas strategi perang dalam  melawan penjajahan. MBO merupakan salah satu bukti sejarah Pertempuran 10 November 1945. Di tempat itu para kiai berkumpul untuk  membahas dan menyusun strategi perang melawan Sekutu.

Termasuk juga tempat pemberian "bekal" berupa air minum atau jagung yang telah diberi asma atau do'a-do'a tertentu untuk menguatkan mental para pejuang.
Saat pertempuran berlangsung, para ulama sudah tidak bisa lagi melakukan pertemuan di Surabaya karena sudah menjadi medan pertempuran yang sangat dahsyat. Karena itulah para kiai memutuskan untuk berkumpul di Waru,  Sidoarjo, tempat yang kini dikenal dengan nama MBO.

Awalnya, rumah itu disewakan. Lalu ketika akan dijual, kabar tersebut sampai ke telinga KH Asep Saifuddin Chalim. Beliau merupakan anak bungsu dari KH Abdul Chalim, salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama asal Majalengka Jawa Barat yang juga teman dekat KH Abdul Wahab Hasbullah. Kiai Asep sangat peduli dengan perjuangan NU. Maka  ketika beliau tahu kabar bahwa rumah tersebut akan dibeli oleh Mat Alwi, beliau langsung mendahului untuk membeli rumah tersebut.

Dari sana oleh Kiai Asep rumah tersebut diserahkan kepada PBNU.
Saat ini Gedung MBO sudah bersertifikat badan hukum Perkumpulan Nahdlatul Ulama PBNU. Kini sedang digalang program Renovasi MBO oleh NU-Care LAZISNU PBNU.

Ketua PWNU Jawa Timur, KH Marzuqi Mustamar, meresmikan gedung  MBO pada Sabtu 16 November 2019  malam hari.

Peresmian ditandai dengan pemasangan papan nama yang disaksikan ratusan warga nahdliyin Sidoarjo dan Surabaya, juga jajaran pengurus NU Jawa Timur, dan para utusan Cabang NU se-Jawa Timur.

Dalam pesannya, KH Marzuqi Mustamar mengatakan bahwa tempat bersejarah ini membutuhkan proses legalitas guna mendapat sertifikat resmi atas nama Badan Hukum NU.
“Di sini, kita berdoa bersama agar proses tersebut bisa segera selesai. Lalu dimanfaatkan secara penuh oleh NU.”

Dengan peresmian gedung tersebut, Kiai Marzuqi berharap dalam pemanfaatannya nanti bisa digunakan untuk nuansa perjuangan, seperti pelatihan kader-kader NU, disertai dengan acara pemberian ijazah doa serta untuk literasi sejarah perjuangan ulama bagi generasi muda.
Menurut KH Marzuqi Mustamar, ketika kader-kader NU melakukan kegiatan yang membutuhkan penguatan spiritual, MBO-lah tempatnya. Yang penting, dimanfaatkan untuk perjuangan NU dan kepentingan NKRI.

Peresmian gedung MBO tersebut  merupakan langkah awal dari ikhtiar bersama untuk menjaga, merawat gedung bersejarah tersebut dan menjadikannya sebagai cagar budaya, agar tetap menjadi bukti untuk generasi yang akan datang tentang fakta sejarah perjuangan para ulama dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Karenanya, PWNU Jawa Timur berupaya mengembalikan rumah tersebut  sebagai aset sejarah yang berharga kepada NU.

Gedung atau rumah MBO  dibangun pada tahun  1927. Oleh karena dibangun pada masa penjajahan Belanda sehingga arsitektur bangunannya menampakkan ciri khas bangunan Eropa pada masanya.

Namun kegagahan bangunan tua itu tinggal cerita. Justru nasib pilu dan mengundang rasa iba yang terlihat. Selain banyak dinding tembok yang mengelupas dimakan usia, atapnya juga bocor, kalau hujan lantainya banjir.

Sebenarnya gedung itu sudah akan direnovasi setelah peresmian tahun 2019, namun karena ada pandemi Covid-19 akhirnya rencana itu   dihentikan.

Lalu sejak Sabtu, 21 Oktober 2023, dimulai lagi penggalangan dana untuk renovasi gedung tersebut. Peresmian dilakukan oleh PWNU Jawa Timur dengan mengundang PBNU, khususnya NU-Care LAZISNU PBNU, yang diberi tugas penggalangan dana dan sekaligus merenovasi.

Melihat kuatnya peran gedung tersebut dalam sejarah perjuangan bangsa,  maka sudah seharusnya gedung tersebut kita pelihara dan jadikan sebagai bangunan bersejarah di Kabupaten Sidoarjo khususnya; dan dijadikan sebagai situs cagar budaya yang bernilai sejarah tinggi.
Selain beberapa fungsi lain, gedung ini juga bisa dipakai untuk wisata edukasi sejarah bagi para generasi muda kita agar tidak buta dengan sejarah bangsanya. (*) 

Editor : Vega Dwi Arista
#Sejarah #Hari Pahlawan #Perjuangan