RADAR SIDOARJO - Video dugaan praktik politik uang menjelang Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Pabean, Kecamatan Sedati, Sidoarjo, viral di media sosial (medsos).
Rekaman berdurasi enam detik yang memperlihatkan seorang kurir membagikan amplop kepada warga itu memicu protes dan membuat sejumlah warga mendatangi balai desa untuk meminta penjelasan.
Baca Juga: Bupati Pantau Pilkades Rawan Konflik, Pastikan Pencoblosan di Sidoarjo Aman dan Kondusif
Warga menduga pembagian amplop berisi uang tersebut merupakan bagian dari praktik serangan fajar yang dilakukan pada malam sebelum pencoblosan Pilkades, Sabtu (23/5) malam.
Salah satu warga, Johan M, mengaku mengetahui langsung adanya pembagian amplop di wilayah Dusun Alastipis RT 01. Ia menyebut informasi itu pertama kali didapat saat bersilaturahmi ke rumah temannya.
Baca Juga: Polresta Sidoarjo Amankan Pilkades Serentak 2026, 1.140 Personel Disebar ke 80 Desa
“Awalnya saya datang ke rumah teman untuk silaturahmi. Tiba-tiba teman bilang kalau mendapat amplop dari keponakannya. Katanya disuruh Pak RT 01,” ujar Johan usai menyampaikan aspirasi di balai desa.
Menurut Johan, amplop tersebut diduga dibagikan untuk mengarahkan pilihan warga kepada salah satu calon kepala desa (cakades). Ia menilai keterlibatan perangkat lingkungan dalam momentum Pilkades tidak seharusnya terjadi.
Baca Juga: Enam Mantan Napi Maju Pilkades Sidoarjo
“Bupati sudah pernah memberi warning kalau RT dan RW tidak boleh terlibat politik praktis. Kalau memang terbukti terlibat harus ditindak,” tegas pria 44 tahun itu.
Johan juga mengungkapkan, kurir yang membagikan amplop disebut menerima imbalan Rp 100 ribu. Sementara isi amplop yang diterima warga diduga sebesar Rp 50 ribu per orang.
Baca Juga: Bupati Sidoarjo Ingatkan Bahaya Money Politics di Pilkades
“Yang saya dengar ada sekitar lima amplop yang dibagikan di wilayah Alastipis RT 01,” katanya.
Kedatangan warga ke balai desa dilakukan untuk meminta kejelasan sekaligus mendorong agar dugaan praktik politik uang segera diproses. Warga khawatir dugaan tersebut mencederai proses demokrasi di tingkat desa.
Baca Juga: Bupati Sidoarjo Ingatkan Bahaya Money Politics di Pilkades
“Warga ingin Pabean bersih dari korupsi dan praktik-praktik seperti ini. Kalau memilih ya harus dari hati nurani, bukan karena uang,” ucap Johan.
Dalam mediasi yang berlangsung di balai desa, hadir Babinsa, ketua panitia Pilkades, kepala BPD, dan sejumlah pihak terkait. Johan mengaku menjadi salah satu warga yang menyampaikan laporan secara langsung kepada panitia dan aparat yang hadir.
Ia juga menyayangkan alasan dari pihak kurir yang disebut membantah adanya kaitan pembagian uang dengan pasangan calon tertentu.
“Kalau logika orang sadar, malam menjelang Pilkades ada uang dibagikan begitu saja tentu menimbulkan pertanyaan,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Desa Pabean Nurul Hidayat menyatakan pihaknya akan meneruskan laporan warga ke panitia tingkat kecamatan dan kabupaten untuk ditindaklanjuti sesuai mekanisme yang berlaku.
“Kita akan meneruskan laporan tersebut ke tingkat kecamatan dan kabupaten. Karena ada panitia tingkat kecamatan dan kabupaten,” ujar Nurul Hidayat ke Radar Sidoarjo, Minggu (24/5).
Ia menegaskan, panitia desa masih fokus menjalankan seluruh tahapan Pilkades sambil menunggu proses lebih lanjut dari panitia di tingkat atas.
“Jadi biar proses pelaksanaan tahapan Pilkades ini jalan dulu. Nanti laporan itu kita sampaikan ke proses yang lebih atas,” katanya.
Nurul menambahkan, panitia desa belum dapat menyimpulkan kebenaran dugaan politik uang yang beredar di masyarakat dan media sosial.
“Kalau masalah terkait dengan yang diberitakan kemarin, kita belum bisa menyimpulkan terkait dengan berita itu. Dari desa hanya menampung, nanti kita sampaikan kepada panitia di kecamatan dan kabupaten,” jelasnya.
Warga berharap laporan dugaan serangan fajar tersebut benar-benar diproses secara serius agar Pilkades berjalan jujur, bersih, dan tidak diwarnai praktik politik uang. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista