Darjo Nyel Ekonomi & Bisnis Features Jatim Kota Delta Kriminal Delta Lifestyle Pendidikan Peristiwa Person of The Year Politika Sport & Health

207 Tambak di Tambak Cemandi Sidoarjo Jebol Diterjang Rob

Diky Putra Sansiri • Selasa, 19 Mei 2026 | 14:31 WIB

BERDAMPAK: Banjir rob merendam kawasan Tambak Cemandi, Kecamatan Sedati, Sidoarjo, Selasa (19/5). (DIKY SANSIRI/RADAR SIDOARJO)
BERDAMPAK: Banjir rob merendam kawasan Tambak Cemandi, Kecamatan Sedati, Sidoarjo, Selasa (19/5). (DIKY SANSIRI/RADAR SIDOARJO)

RADAR SIDOARJO - Banjir rob yang terus menghantui kawasan pesisir Kecamatan Sedati kembali memukul perekonomian warga. Sebanyak 207 tambak di Dusun Gisik Kidul, Desa Tambak Cemandi, dilaporkan jebol diterjang rob hingga menyebabkan kerugian ditaksir mencapai Rp 20 miliar.

Akibat kondisi tersebut, ratusan tambak milik warga kini tidak lagi produktif. Dampaknya tidak hanya dirasakan petani tambak, tetapi juga masyarakat sekitar yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas perikanan.

Baca Juga: DPRD Tuban Studi Tiru Pengendalian Banjir di Sidoarjo

Sejumlah warga yang sehari-hari bekerja sebagai pencabut duri ikan hingga pemilik warung terpaksa menghentikan aktivitas usahanya sementara karena banjir rob yang terus terjadi setiap tahun.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD) Desa Tambak Cemandi, Tohir, mengatakan banjir rob di kawasan pesisir tersebut sudah berlangsung cukup lama dan hingga kini belum ditemukan solusi penanganan yang benar-benar efektif.

Baca Juga: Banjir Kepung Taman Sidoarjo, Enam Desa Terendam, 171 Rumah di Bringinbendo Terdampak

“Diperkirakan ada 207 pintu tambak yang sudah tidak bisa produktif. Kalau dihitung keseluruhan, kerugiannya bisa mencapai sekitar Rp 20 miliar,” ujar Tohir, Selasa (19/5).

Menurutnya, banjir rob paling parah biasanya terjadi pada Mei dan Juni. Sementara pada November dan Desember, banjir juga masih terjadi meski lebih sering datang pada malam hari.

Baca Juga: Banjir Bringinbendo Taman Sidoarjo Tak Kunjung Surut, Omzet UMKM Anjlok

“Setiap bulan Mei dan Juni itu puncaknya banjir rob. Dalam satu tahun bisa empat kali banjir, yakni Mei, Juni, November, dan Desember,” katanya.

Ia menjelaskan, wilayah paling terdampak berada di RT 1 hingga RT 4 Dusun Gisik Kidul. Kondisi tersebut bahkan sudah berlangsung sejak 2017 dan semakin parah mulai 2018 hingga sekarang.

Baca Juga: Bhabinkamtibmas Polsek Taman Sidoarjo Salurkan Bantuan Sembako untuk Warga Terdampak Banjir 

“Yang paling rawan itu mulai 2018 sampai sekarang. Sampai hari ini belum ada solusi terbaik untuk penanganan banjir,” ungkapnya.

Berbagai upaya sebenarnya sudah pernah dilakukan, termasuk pembangunan tanggul. Namun, tanggul tersebut kembali jebol diterjang air laut.

“Sudah pernah diberi tanggul, tapi jebol lagi,” tuturnya.

Tohir berharap Pemerintah Kabupaten Sidoarjo segera turun tangan memberikan solusi konkret untuk menyelamatkan kawasan pesisir tersebut. Salah satu yang paling diharapkan warga adalah peninggian akses jalan dan penguatan tanggul.

“Harapan kami warga Gisik Kidul mohon dibantu masalah jalan, coba ditinggikan. Barangkali itu bisa menanggulangi banjir,” katanya.

Ia juga mengaku pernah mengajukan bantuan alat berat berupa bego untuk penanganan tambak dan tanggul sejak 2021, namun hingga kini belum terealisasi.

“Dulu saya mengajukan bego sampai sekarang belum ada,” ujarnya.

Selain Desa Tambak Cemandi, kawasan Kalanganyar juga disebut terdampak banjir rob, meski kerusakan lebih banyak terjadi pada area tambak. (dik/vga)

Editor : Vega Dwi Arista
#cemandi #Tambak #Sedati #Banjir #rob