RADAR SIDOARJO - "Tukang Bubur Naik Haji" bukan sekadar judul sinetron di layar kaca.
Di Desa Pepe, Kecamatan Sedati, Sidoarjo, kisah itu menjelma nyata melalui keteguhan hati Mohammad Nurhasan, 78, dan istrinya, Dawama, 73.
Pasangan penjual lontong balap dan bubur sumsum ini membuktikan bahwa niat suci yang dibalut kesabaran mampu mengalahkan keterbatasan ekonomi.
Baca Juga: Daftar Tunggu Haji Sidoarjo Tertinggi se-Indonesia, Harus Antre hingga 29 Tahun
Selama 16 tahun, pasangan ini menyisihkan rupiah demi rupiah ke dalam sebuah kantong kresek sederhana. Kantong plastik itulah yang menjadi "saksi bisu" perjuangan mereka hingga akhirnya tergabung dalam Kloter 53 Calon Jemaah Haji (CJH) Sidoarjo yang diberangkatkan ke Madinah tahun 2026 ini.
Setiap pagi pukul 08.00, kepulan asap dari warung sederhana di depan rumah mereka mulai membubung.
Baca Juga: Menabung 17 Tahun dari Hasil Bertani, Juwariyah Asal sidoarjo Berangkat Haji meski Tanpa Suami
Di sana, Nurhasan dan Dawama mengais rezeki dengan keuntungan yang tak menentu, rata-rata hanya Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu per hari.
"Setiap hari ya kadang habis, kadang tidak. Pernah seharian cuma habis satu entong saja, sisanya ya dibagikan ke tetangga-tetangga," kenang Nurhasan.
Meski penghasilan pas-pasan, mereka tak pernah absen menyisihkan Rp 200 ribu per minggu melalui arisan kampung.
Strateginya unik, setiap kali uang arisan cair, baik itu Rp 5 juta atau Rp 10 juta, Dawama langsung memasukkannya ke dalam kantong kresek dan menyimpannya di dalam lemari.
Baca Juga: Kloter Pertama Jemaah Haji Embarkasi Surabaya Berangkat dari Juanda Sidoarjo
Ketekunan menabung sejak tahun 2010 itu akhirnya membuahkan hasil. Pada tahun 2012, dengan uang Rp 50,5 juta yang terkumpul di dalam kresek, mereka memberanikan diri mendaftar haji. Setelah menanti selama 14 tahun, panggilan Baitullah itu akhirnya tiba.
Keberangkatan pasangan ini sempat mengejutkan warga sekitar. Bahkan, ada tetangga yang mengira mereka mendapatkan warisan mendadak karena kondisi ekonomi mereka yang terlihat sangat sederhana.
"Sering ditanya dapat warisan dari mana, enggak dapat warisan dari mana-mana, (uangnya) asal kerja. Orang-orang tahu saya enggak punya apa-apa," ujar Nurhasan.
Bagi Nurhasan, kunci keberhasilannya berangkat ke Tanah Suci bukanlah sekadar strategi menabung, melainkan pengelolaan hati dan spiritualitas yang terjaga.
"Intinya cuma ikhlas, sabar, jangan banyak tengkar sama keluarga atau orang lain. Yang penting banyak-banyak salawat setiap hari," pesannya.
Kini, tangis haru tetangga dan anak-anak mengiringi langkah kaki Nurhasan dan Dawama menuju Madinah.
Di Tanah Suci nanti, mereka hanya memiliki satu keinginan sederhana dalam doa-doanya, memohon kesehatan dan kelancaran rezeki agar bisa terus menebar manfaat melalui warung kecil mereka di Desa Pepe. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista