RADAR SIDOARJO - Kondisi Jembatan Tarik Kidul yang menghubungkan Desa Tarik, Kecamatan Tarik, Sidoarjo dengan Desa Kwatu, Kecamatan Mojoanyar, Mojokerto, kian memprihatinkan.
Pagar pembatas jebol, badan jembatan sempit, serta posisi jembatan yang lebih rendah dari jalan membuat warga waswas setiap kali melintas.
Baca Juga: Bupati Subandi Siapkan Lomba Balap Merpati Nasional, Tegaskan Sidoarjo Harus Bebas Judi
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo akhirnya memastikan pembangunan ulang jembatan lintas kabupaten tersebut akan dilakukan pada tahun 2027 mendatang.
Kepastian itu disampaikan langsung Bupati Sidoarjo Subandi saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi jembatan pada Sabtu (2/5).
Baca Juga: Bupati Sidoarjo Minta Lokasi Koperasi Merah Putih Harus Strategis
Dalam sidak tersebut, Subandi melihat langsung kondisi fisik jembatan yang dinilai sudah tidak layak digunakan dan berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan.
“Karena ini jembatan penghubung antar kabupaten, maka akan segera kita bangun tahun 2027 dan tentunya harus segera ada perbaikan,” ujar Subandi.
Baca Juga: Sidoarjo Raih Predikat Kinerja Tertinggi Nasional, Bupati Subandi: Bukti Kerja Keras dan Kolaborasi
Menurut dia, proses pembangunan ditargetkan mulai berjalan pada awal 2027. Bahkan, pelaksanaan fisik proyek diharapkan sudah dimulai sekitar Maret atau April tahun depan.
’Nanti sekitar bulan tiga atau bulan empat sudah ada pembangunan di sini,” katanya.
Baca Juga: Pembangunan RSUD Sedati Mandek, Ini Kata Bupati Sidoarjo
Subandi mengungkapkan, sebenarnya proyek pembangunan jembatan tersebut sempat direncanakan lebih awal. Namun, pelaksanaannya tertunda akibat kebijakan efisiensi anggaran.
“Harusnya tahun kemarin jembatan ini dibangun. Tapi karena ada efisiensi, akhirnya pembangunan ditunda,” ungkapnya.
Ia menegaskan, keberadaan Jembatan Tarik Kidul sangat vital karena menjadi akses utama penghubung antara Kabupaten Sidoarjo dan Mojokerto. Karena itu, proyek pembangunan kembali dipastikan masuk agenda prioritas Pemkab Sidoarjo.
Selain pembangunan ulang, Subandi juga menyoroti perlunya normalisasi di sekitar area jembatan guna mendukung fungsi infrastruktur secara maksimal.
“Terus yang kedua juga normalisasi, kondisinya ini perlu untuk dinormalisasi,” tambahnya.
Di lokasi, kerusakan jembatan tampak cukup parah. Pagar pembatas di sisi timur bahkan sudah ambruk dan jebol, sementara sisi barat terlihat keropos dan retak. Kondisi tersebut diperparah dengan minimnya fasilitas pengaman di area jembatan.
Warga sekitar, Efendi, mengatakan kerusakan jembatan sudah lama dikeluhkan masyarakat. Bahkan warga sempat memasang tali rafia sebagai penanda darurat agar pengendara lebih berhati-hati saat melintas.
“Sengaja dipasang tali rafia oleh warga, namun sekarang sudah lepas,” ujar pria 36 tahun itu.
Menurut Efendi, tanpa penanda maupun rambu peringatan, risiko kecelakaan di lokasi tersebut sangat tinggi, terutama saat kendaraan roda empat berpapasan.
“Kalau tidak ada rambu, dikhawatirkan pengendara motor atau mobil jatuh ke air. Apalagi kalau berpapasan mobil, dikira jembatannya lebar, padahal tidak muat,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air (DPUBMSDA) Sidoarjo Muhammad Makhmud menjelaskan, rencana perbaikan jembatan sebelumnya sempat terkendala proses pengadaan.
“Iya, kemarin tahun 2025 gagal lelang dan tidak dapat dilanjutkan pengadaannya karena sudah tidak cukup waktu yang tersisa,” katanya.
Sebagai informasi, Jembatan Tarik Kidul setiap hari dilalui kendaraan roda dua hingga roda empat yang mengandalkan akses penghubung antarwilayah Sidoarjo–Mojokerto tersebut. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista