RADAR SIDOARJO - Upaya pembenahan sistem pengelolaan sampah di Kabupaten Sidoarjo mulai dipercepat. Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) setempat tengah memetakan ratusan Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) guna menentukan arah pengembangan ke depan.
Kepala DLHK Sidoarjo, Arif Mulyono, mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya melakukan pendataan terhadap 209 TPS3R yang tersebar di berbagai wilayah.
Baca Juga: Persoalan Sampah Masih Jadi PR, Pemkab Sidoarjo Siapkan Sanksi Tegas untuk Pelanggar
“Kami memetakan lebih dari 200 TPS3R bersama tim,” ujarnya kepada Radar Sidoarjo, Rabu (29/4).
Menurut Arif, pemetaan tersebut bertujuan untuk mengetahui kondisi riil operasional TPS3R, baik yang masih aktif maupun yang tidak beroperasi. Selain itu, TPS3R yang aktif juga akan diklasifikasikan berdasarkan tingkat kinerjanya.
Baca Juga: Pengelolaan Sampah Rest Area Jadi Perhatian, DLHK Sidoarjo Dampingi Kunjungan Wamen Lingkungan Hidup
“Kami data mana yang aktif dan tidak aktif. Lalu yang aktif kami kelompokkan lagi, apakah masuk kategori sangat baik, sedang, atau kurang,” jelasnya.
Hasil pemetaan ini akan menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan, termasuk pengajuan anggaran pada tahun mendatang. DLHK pun telah menyiapkan rencana penguatan sarana dan prasarana bagi TPS3R yang masih membutuhkan dukungan.
Baca Juga: Jelang Mudik, Menteri Lingkungan Hidup Soroti Sampah di Terminal Purabaya Sidoarjo
“Pada 2027 kami akan mengusulkan anggaran untuk kebutuhan seperti hanggar, mesin pemilah, hingga conveyor untuk pengangkutan. Semua akan kami ajukan dalam APBD 2027,” terangnya.
Sementara itu, untuk TPS3R yang tidak aktif, DLHK tidak serta-merta menutupnya. Sebaliknya, akan dilakukan upaya reaktivasi melalui pembentukan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) baru yang ditunjuk oleh pemerintah desa.
Baca Juga: Tumpukan Sampah di TPST Rejeni Sidoarjo Terbakar, Begini Kondisinya
“Kalau tidak aktif, berarti harus diaktifkan kembali. Dibutuhkan KSM baru yang ditunjuk desa agar TPS3R bisa kembali beroperasi,” tegasnya.
Arif menambahkan, proses pemetaan saat ini masih berlangsung sehingga data detail belum sepenuhnya final. Untuk memastikan akurasi, pihaknya juga akan melakukan verifikasi langsung ke lapangan.
“Ini masih proses pendataan. Untuk data yang belum valid, akan kami cek satu per satu di lapangan agar hasilnya benar-benar akurat,” pungkasnya. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista