RADAR SIDOARJO - Masa depan desa kini tidak lagi hanya ditentukan oleh luas wilayah atau melimpahnya sumber daya alam. Di era disrupsi teknologi, kreativitas pemuda dalam mengolah potensi menjadi narasi dan solusi justru menjadi faktor kunci kemajuan desa.
Sekretaris Komisi B DPRD Sidoarjo, Sullamul Hadi Nurmawan, menilai desa sejatinya tidak kekurangan potensi, melainkan membutuhkan cara baru untuk mengemasnya. Karena itu, pemuda didorong untuk berpikir kreatif dan berani keluar dari pola lama.
Baca Juga: Lahan Mangkrak Eks TKD di Bebekan Taman Disorot Komisi C DPRD Sidoarjo
“Bukan soal potensi desa, tapi bagaimana kreativitas teman-teman dalam mengolah dan menampilkannya. Kreatif saat ini adalah mampu menghadirkan solusi,” ujar pria yang akrab disapa Gus Wawan itu, Rabu (22/4) malam.
Menurut politisi PKB tersebut, kreativitas yang mampu melahirkan solusi akan membuat desa lebih produktif. Ia menekankan pentingnya pola pikir inovatif yang berani keluar dari kebiasaan.
“Ketika kreativitas mampu menciptakan solusi, desa mana pun bisa menjadi produktif. Di era sekarang, kita dituntut menghadirkan ide-ide out of the box,” tambahnya.
Ia juga mencontohkan keberhasilan pemuda di Bandung yang mengembangkan pertanian hidroponik dan memasarkannya secara digital langsung ke konsumen.
Baca Juga: Komisi C DPRD Sidoarjo Dorong Revitalisasi Pasar Krian, Anggarkan Rp 15 M
“Di Bandung, anak muda menanam hidroponik, memasarkan secara online, lalu langsung diorder restoran tanpa perantara. Omzetnya bisa mencapai Rp 20–30 juta. Di desa saya sendiri, kami juga menciptakan ‘Pohon Jomblo’ yang masuk 50 foto terbaik se-Indonesia,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Diskominfo Kabupaten Sidoarjo, Eri Sudewo, menekankan pentingnya peningkatan kompetensi generasi muda dalam menghadapi perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Baca Juga: Cyber Bullying Mengancam Siswa Sidoarjo, DPRD Tekankan Perang terhadap Perundungan
“Tidak menutup kemungkinan lima sampai sepuluh tahun ke depan, banyak pekerjaan manusia akan digantikan AI. Karena itu, kita harus meningkatkan kompetensi diri,” jelasnya.
Ia mencontohkan, industri otomotif kini telah menggunakan robot, bahkan layanan transportasi sudah mulai mengadopsi kendaraan tanpa sopir. Tanpa kesiapan, generasi muda dikhawatirkan hanya menjadi penonton di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
“Kalau hanya asyik bermain media sosial dan game, kita akan jadi penonton di negeri sendiri. Kita harus belajar bagaimana AI dibuat, digunakan, dan diarahkan,” tegasnya.
Eri juga mengungkapkan bahwa Pemerintah Kabupaten Sidoarjo terus memperkuat infrastruktur digital hingga ke desa-desa, termasuk melalui penyediaan akses internet gratis.
“Hampir seluruh desa di Sukodono sudah mendapat fasilitas internet gratis, dan program ini terus diperluas ke wilayah lain di Sidoarjo,” ujarnya.
Menurutnya, potensi desa akan memiliki nilai tambah jika dipadukan dengan teknologi seperti Internet of Things (IoT), AI, serta strategi branding digital.
“Potensi desa bisa dikembangkan melalui teknologi, baik IoT, AI, maupun branding. Saya optimistis Sukodono bisa menjadi pilot project,” katanya.
Selain itu, pihaknya juga mendorong pembentukan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) sebagai wadah pemberdayaan warga dalam literasi digital.
“KIM bisa menjadi mitra strategis pemerintah dalam menyebarkan informasi, menjembatani komunikasi, serta memberdayakan masyarakat,” pungkasnya. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista