RADAR SIDOARJO - Hujan lebat disertai angin kencang yang mengguyur Sidoarjo sejak Minggu (4/1) tidak hanya memicu banjir di wilayah selatan. Di wilayah utara Kota Delta, genangan air setinggi hampir lutut orang dewasa merendam sejumlah titik di Kecamatan Waru, Senin (5/1). Salah satu lokasi terdampak berada di Jalan Raya Wisma Tropodo.
Selain Wisma Tropodo, banjir juga menggenangi Desa Kepuhkiriman, tepatnya di depan SMP Negeri 2 Waru. Hingga Senin, genangan air masih bertahan dengan ketinggian sekitar 30 sentimeter.
Kondisi tersebut tidak hanya menghambat aktivitas warga, tetapi juga berdampak signifikan terhadap pendapatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menggantungkan hidup di kawasan tersebut.
Salah seorang pedagang cimol di Wisma Tropodo, Taura, mengatakan banjir mulai menggenangi lapaknya sejak Minggu malam. Menurutnya, hujan deras yang berlangsung cukup lama membuat air cepat naik dan sulit surut.
“Kemarin air sampai naik ke lapak. Pagi ini sudah agak surut,” ujar Taura kepada Radar Sidoarjo, Senin (5/1).
Banjir yang kerap terjadi setiap kali hujan deras itu membuat jumlah pembeli turun drastis. Taura mengaku omzetnya merosot hingga 50 persen dibandingkan kondisi normal.
“Kalau banjir begini pembeli turun sampai 50 persen. Biasanya kalau tidak banjir, alhamdulillah masih banyak yang beli. Sekarang jadi sepi,” keluh pria berusia 26 tahun tersebut.
Dalam kondisi normal, Taura mampu menjual hingga 120 porsi cimol per hari dengan jam operasional dari pagi hingga malam. Namun saat banjir melanda, dagangannya hanya terjual sekitar separuhnya. Padahal, ia baru satu bulan berjualan di lokasi tersebut dan hampir setiap hujan deras kawasan itu selalu tergenang.
“Baru satu bulan di sini, tapi hampir setiap hujan deras pasti banjir,” tambahnya.
Kondisi banjir yang berulang membuat para pedagang resah. Taura menilai persoalan utama terletak pada saluran drainase yang tidak berfungsi optimal.
“Sepertinya saluran airnya tidak berfungsi dengan baik. Harapannya segera ada solusi supaya tidak banjir terus-menerus,” harapnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Siti, pedagang es teh di kawasan yang sama. Menurutnya, hujan dan banjir membuat daya beli masyarakat menurun karena warga enggan keluar rumah.
“Kalau hujan dan banjir, orang biasanya tidak mau keluar rumah. Jadi saya tutup lebih cepat. Biasanya sampai malam, sekarang sore sudah tutup,” ujar perempuan berusia 46 tahun tersebut.
Para pedagang berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi banjir yang kerap terjadi di kawasan Wisma Tropodo dan sekitarnya. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista