Darjo Nyel Ekonomi & Bisnis Features Jatim Kota Delta Kriminal Delta Lifestyle Pendidikan Peristiwa Person of The Year Politika Sport & Health

Tiga Hari Banjir Rendam 60 Rumah, Warga Desa Boro Tanggulangin Sidoarjo Terpaksa Mengungsi

Diky Putra Sansiri • Senin, 22 Desember 2025 | 23:58 WIB
BUTUH PENANGANAN: Banjir menggenangi rumah warga di RT 11/RW 03, Desa Boro, Kecamatan Tanggulangin.
BUTUH PENANGANAN: Banjir menggenangi rumah warga di RT 11/RW 03, Desa Boro, Kecamatan Tanggulangin.

RADAR SIDOARJO - Banjir yang melanda RT 11/RW 03, Desa Boro, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, tak kunjung surut selama tiga hari. Sejak Sabtu (19/12) dini hari hingga Senin (22/12), sedikitnya 60 rumah warga terendam air setinggi setengah ban motor. Kondisi ini membuat aktivitas warga lumpuh dan sebagian terpaksa mengungsi ke rumah kerabat.

Genangan air yang bertahan lama memicu keresahan warga. Selain merusak perabot rumah tangga dan kendaraan, banjir juga membuat sejumlah rumah tidak lagi layak ditinggali.

Ketua RT 11/RW 03 Desa Boro, Ali Mashurri, mengungkapkan bahwa dalam sepekan terakhir banjir sudah dua kali menggenangi permukiman warganya. Ironisnya, hingga hari ketiga, belum terlihat penanganan serius dari pemerintah.

“Banjir ini sudah tiga hari, dari Sabtu dini hari sampai hari ini belum surut. Dalam satu minggu sudah dua kali kejadian. Saya sendiri sejak Minggu terpaksa mengungsi ke rumah saudara di Buduran,” ujar Ali kepada Radar Sidoarjo, Senin (22/12).

Menurut Ali, banjir di wilayahnya bukan kejadian baru. Bahkan, kondisinya kian memburuk dari tahun ke tahun. Pada kejadian kali ini, ketinggian air mencapai sekitar 30 sentimeter.

“Motor Honda Genio milik istri saya yang ada di dalam rumah sampai terendam. Airnya hampir setinggi lutut orang dewasa,” ungkapnya.

Ia menegaskan, hujan dengan durasi lebih dari dua jam hampir selalu berujung banjir di lingkungannya. Keluhan warga pun terus berdatangan, membuat dirinya berada dalam posisi sulit sebagai ketua RT.

“Kami sebagai warga tentu ingin tidak kebanjiran lagi. Tapi kalau hujan lebih dari dua jam, sudah dipastikan banjir. Warga sudah lama mengeluh. Makanya sering kali harus diviralkan dulu supaya ada perhatian,” katanya.

Karena tak kunjung mendapat respons, Ali akhirnya membuat video di media sosial TikTok dengan menyebut langsung Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Dalam video tersebut, ia memaparkan kondisi banjir sekaligus menyampaikan sejumlah usulan solusi.

“Saya membuat video itu langsung menyebut Ibu Gubernur, karena masalah banjir di Desa Boro ini kompleks,” ujarnya.

Ali menduga banjir disebabkan tidak berfungsinya Sungai Gedang Rowo di selatan Desa Boro serta kondisi Sungai Afvour yang puluhan tahun tidak dinormalisasi.

“Sungai Gedang Rowo itu sudah seperti sungai mati. Di bagian timur dekat jembatan Jalan Raya Surabaya–Malang, kisdam saat pembangunan jembatan tidak diambil, sehingga aliran air tidak bisa mengalir lancar,” jelasnya.

Ia menyebut Sungai Gedang Rowo memang sudah dua kali dikeruk dalam beberapa tahun terakhir, namun hasilnya dinilai tidak maksimal.

“Yang pertama dikeruk manual pakai cangkul, tahun lalu pakai alat berat kecil. Terlihat tidak serius, sehingga tidak ada dampaknya,” tegas Ali.

Sementara itu, Sungai Afvour disebut sudah hampir 30 tahun tidak pernah dinormalisasi. Kondisinya kini selalu penuh, bahkan saat tidak turun hujan.

“Musala kami yang sebelumnya tidak pernah kemasukan air, sekarang ikut kebanjiran. Sungai Afvour itu kalau hujan lebat pasti meluap,” katanya.

Ali juga menyoroti adanya bangunan di atas aliran Sungai Gedang Rowo, tepatnya lahan parkir salah satu toko tas dan koper di sisi barat pertemuan sungai.

“Aliran sungai ditutup untuk parkiran. Jadi kondisi sungai di bawahnya seperti apa, kami tidak tahu,” ungkapnya.

Ia membandingkan kondisi desanya dengan Perumahan Mutiara Citra Asri (MCA) yang berada di sebelah utara. Kawasan tersebut kini bebas banjir setelah sungai penyebab genangan dinormalisasi.

“Desa kami ini sebenarnya punya tiga sungai, Gedang Rowo, Afvour, dan Balong. Tapi dua di antaranya justru menjadi sumber banjir,” paparnya.

Selain itu, kontur tanah RT 11/RW 03 yang berada di titik terendah dan di ujung timur membuat aliran air kerap meluap ke permukiman. Kondisi tersebut diperparah dengan bantaran Sungai Gedang Rowo yang kini dipenuhi bangunan.

“Kami berharap Ibu Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bisa mengirim tim survei ke Desa Boro. Kami ingin solusi menyeluruh, bukan tambal sulam, agar banjir tidak terus berulang setiap tahun,” tegas Ali.

Sementara itu, Camat Tanggulangin Sabino Mariano menjelaskan bahwa genangan air rata-rata disebabkan aliran sungai yang tidak mampu menampung debit air pascahujan deras yang terjadi selama beberapa hari terakhir, ditambah pengaruh air laut pasang.

“Curah hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir membuat debit sungai meningkat, sementara kapasitas aliran tidak mencukupi. Ditambah kondisi air laut pasang yang memperlambat pembuangan air,” ujar Sabino Mariano, yang juga menjabat sebagai Plt Kepala BPBD Sidoarjo.

Ia menambahkan, kondisi banjir di Desa Boro saat ini mulai menunjukkan tanda-tanda surut di beberapa titik.

“Hari ini sudah terpantau air mulai berangsur surut di sebagian wilayah Boro. Pompa di kawasan timur Tanggulangin juga tetap kami aktifkan untuk mengurangi debit air di permukiman,” pungkasnya. (dik/vga)

Editor : Vega Dwi Arista
#kecamatan #Rumah #Banjir #Tanggulangin #mengungsi