RADAR SIDOARJO - Bupati Sidoarjo, Subandi melakukan sidak ke SMPN 2 Tanggulangin. Sekolah tersebut hampir selalu tergenang setiap kali hujan deras turun.
Oleh karena itu, penanganan banjir di Tanggulangin membutuhkan asesmen menyeluruh. Evaluasi teknis harus dilakukan agar banjir tidak berulang setiap tahun.
“Faktor air laut dan penurunan tanah itu benar, tapi kami butuh kajian yang lebih mendalam, supaya solusi yang disiapkan betul-betul konkret dan bisa menyelesaikan masalah secara bertahap," ucapnya saat ditemui Radar Sidoarjo, Kamis (27/11).
Subandi melihat, pembangunan fisik di SMPN 2 Tanggulangin masih kurang tepat dari sisi pengukuran ketinggian permukaan. Padahal pemerintah memiliki waterpass digital yang dapat menentukan titik ketinggian secara presisi.
“Kalau ada perbedaan ketinggian itu harus diukur dengan alat, konsultan harus paham regulasi supaya proyek tidak dikerjakan dua kali," ujarnya.
Baginya, masyarakat membutuhkan penanganan lebih dari sekadar bantuan logistik. Warga akan lebih senang jika lingkungan tidak terus terganggu banjir.
Oleh sebab itu, pekan depan, pemkab akan melibatkan tim ITS untuk melakukan mitigasi dan assessment banjir di Tanggulangk . Kajian tersebut akan difokuskan pada pemetaan penurunan tanah dan kebutuhan peninggian wilayah.
“Anggaran 2026 harus betul-betul difokuskan untuk peninggian kawasan Tanggulangin, jelasnya.
DPUBMSDA dan BPBD juga diminta menyiapkan langkah jangka menengah agar genangan dapat dikurangi. Targetnya, pada 2027 debit air yang masuk ke Tanggulangin bisa lebih terkendali.
Sekolah menjadi prioritas mitigasi karena aktivitas belajar sering terhenti akibat banjir. Subandi ingin siswa tetap dapat belajar dengan aman dan nyaman.
“Ketinggian saluran, tanah, dan bangunan sekolah harus dihitung pakai waterpass, supaya proyek tidak perlu dikerjakan ulang," pungkasnya. (sai/vga)
Editor : Vega Dwi Arista