Darjo Nyel Ekonomi & Bisnis Features Jatim Kota Delta Kriminal Delta Lifestyle Pendidikan Peristiwa Person of The Year Politika Sport & Health

Kisah Dokter Lakukan Amputasi Santri di Bawah Reruntuhan Ponpes Al-Khoziny Sidoarjo

M Saiful Rohman • Sabtu, 4 Oktober 2025 | 15:32 WIB
INSPIRATIF: Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi RSUD RT Notoputo, dr Larona Hydravianto.
INSPIRATIF: Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi RSUD RT Notoputo, dr Larona Hydravianto.

RADAR SIDOARJO - Suasana evakuasi korban ambruknya musala Ponpes Al-Khoziny, Buduran, masih menyisakan cerita. Salah satunya adalah operasi amputasi yang dilakukan langsung di bawah reruntuhan bangunan.

Di balik tragedi itu, ada kisah perjuangan tenaga medis. Seorang dokter melakukan operasi amputasi di bawah reruntuhan demi menyelamatkan korban.

Saat itu, Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi RSUD RT Notoputo, dr Larona Hydravianto mendapat kabar dari direktur rumah sakit. Informasinya, ada korban selamat dengan tangan tergencet beton besar.

“Ketika saya masuk, aksesnya sangat sempit, hanya sekitar 40 hingga 50 sentimeter, saya harus merangkak sejauh 10 meter, di dalam ada dua korban, satu meninggal dan satu lagi masih hidup bernama Nur Rahmat,” ungkapnya.

Korban bernama Nur Rahmad, terbaring lemah. Nadinya juga masih berdetak, namun lengannya terjepit di bagian siku dan tidak bisa dilepaskan.

Keputusan sulit harus diambil. “Saya melihat langsung kondisinya, dan hanya ada satu jalan, yaitu amputasi, itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan hidupnya,” ujarnya.

Namun amputasi di lokasi sempit tidak mudah dilakukan. Dr Larona meminta bantuan tim anestesi karena risiko pasien mengalami shock sangat tinggi.

Tidak lama kemudian, datang dokter Farouk (anestesi) dan dokter Aron (ortopedi). Mereka membawa perlengkapan medis darurat untuk melakukan tindakan.

Dengan penerangan seadanya, ketiganya masuk ke bawah reruntuhan. Posisi tiarap dan hanya dibantu lampu senter, mereka memulai operasi darurat.

“Proses amputasi memakan waktu sekitar 20 menit, kami memotong sedikit demi sedikit sambil menarik tubuh pasien keluar,” jelasnya.

Korban berhasil dikeluarkan dan segera diberi oksigen serta infus. Selanjutnya, dievakuasi ke RSUD Sidoarjo untuk operasi lanjutan pembersihan luka.

Malam itu juga, Nur Rahmat menjalani operasi tahap dua. Kondisinya kini berangsur membaik setelah melewati masa kritis.

Dr Larona menegaskan apa yang dilakukan adalah bagian dari tugas kemanusiaan. “Kami hanya ingin menyelamatkan satu nyawa, situasinya sulit, tapi nyawa pasien jauh lebih berharga,” pungkasnya. (sai/vga)

Editor : Vega Dwi Arista
#Korban #Musala #Evakuasi #Operasi #amputasi