Darjo Nyel Ekonomi & Bisnis Features Jatim Kota Delta Kriminal Delta Lifestyle Pendidikan Peristiwa Person of The Year Politika Sport & Health

Mbah Amad, Veteran 103 Tahun dari Sedati Sidoarjo, Siapkan Tangga saat Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato

Diky Putra Sansiri • Rabu, 20 Agustus 2025 | 23:03 WIB

 

 

INSPIRATIF: Mbah Amad saat ceritakan kisahnya berjuang melawan penjajah. (DIKY SANSIRI/RADAR SIDOARJO)
INSPIRATIF: Mbah Amad saat ceritakan kisahnya berjuang melawan penjajah. (DIKY SANSIRI/RADAR SIDOARJO)

RADAR SIDOARJO - Dentuman bom, deru pesawat tempur, hingga kobaran semangat arek-arek Suroboyo masih melekat kuat dalam ingatan Mbah Amad. Di usianya yang kini 103 tahun, veteran asal Sedati itu masih tegak bercerita tentang perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Saat ditemui Radar Sidoarjo di rumah anaknya di Perumahan Putri Juanda, Desa Pepe, Kecamatan Sedati, Rabu (20/8), Mbah Amad membuka kembali lembaran sejarah. Ia merupakan saksi hidup peristiwa heroik perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato, Surabaya, pada 19 September 1945.

“Saya tidak ikut merobek, tapi saya yang menyiapkan tangga. Anak-anak muda langsung naik merobek bendera itu. Tentara Belanda marah besar setelahnya,” tutur pria kelahiran Februari 1922 yang dikaruniai 12 anak tersebut.

Mbah Amad menegaskan, pemuda adalah urat nadi perjuangan. “Jangan lupa sama rakyat kecil dan anak-anak muda. Karena dulu yang berjuang adalah anak muda,” pesannya.

Ia juga masih mengingat peran besar Bung Tomo yang membakar semangat arek-arek Suroboyo di medan laga. “Kalau Bung Tomo tidak memberi semangat, mungkin kurang semangat. Bung Tomo berdiri paling depan sambil bertakbir, waktu pertempuran di Kapas Krampung,” kenangnya.

Perlawanan sengit di Surabaya kala itu memaksa para pejuang mundur ke arah barat daya. Mereka bergerak melewati Sepanjang, Krian, Mojokerto hingga pedalaman hutan Nganjuk pada 1947–1948. Kehidupan gerilya penuh keterbatasan. “Tidak ada nasi, setiap hari makan pisang, ubi, buah, sampai daun jati muda,” ucapnya.

Namun, kisah paling kelam terjadi di Desa Karangsemi, Kecamatan Gondang, Nganjuk. Ia bersama empat pejuang lain tertangkap Belanda dan dipenjara di Kalisosok, Surabaya. Empat bulan ditawan, ia menyaksikan sahabat seperjuangannya, Kamdan, dibunuh dengan cara mengenaskan. “Kalau teringat masa itu, saya benar-benar enggak tega,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Atas pengabdiannya, Mbah Amad menerima Bintang Kehormatan Perang Gerilya. Ia juga pernah menjadi bagian dari Polisi Istimewa pada 1944, pasukan bentukan pemerintah militer Jepang, sebelum akhirnya bergabung dengan arek-arek Suroboyo.

Kini, meski raganya renta dan pendengarannya memudar, semangatnya tetap menyala. “Saya orang buta huruf, tidak bisa membaca, tidak bisa menulis. Namun jiwa saya, jiwa patriot,” tegasnya. (dik/vga)

Editor : Vega Dwi Arista
#Hotel #bendera #Sedati #pejuang #veteran #Belanda