RADAR SIDOARJO - Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Sidoarjo terus bertambah. Hingga Selasa (27/5) kemarin totalnya mencapai 275 kasus. Dari data Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo, sebanyak 210 kasus terjadi pada Januari hingga April. Sisanya 65 kasus tercatat selama bulan Mei.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sidoarjo, Danang Abdul Ghani mengatakan, Kecamatan Sidoarjo mencatat jumlah kasus tertinggi dengan 28 kasus. Disusul Candi 20 kasus, Buduran 16 kasus dan Tanggulangin serta Taman masing-masing 15 dan 13 kasus.
"Kecamatan Waru juga mencatat 13 kasus DBD, terdapat satu warga dilaporkan meninggal dunia, menjadikan Waru masuk ke dalam zona merah," ucapnya kepada Radar Sidoarjo, Minggu, (1/6).
Dia menjelaskan, pihaknya langsung menindaklanjuti dengan melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) dan fogging. Hal tersebut dilakukan tak lama setelah laporan masuk.
Dari peta sebaran, terdapat 11 kecamatan berstatus zona kuning atau memiliki lebih dari 10 kasus. Sebanyak delapan kecamatan masih di zona hijau dengan kasus di bawah 10.
Dua kecamatan tidak mencatat kasus sama sekali, yakni Balongbendo dan Tarik satu. Hal itu membuat keduanya berada di zona putih.
"Lonjakan kasus harian DBD di bulan Mei terjadi beberapa kali, puncaknya terjadi pada 6 Mei dengan tujuh kasus dan 21 Mei dengan enam kasus," jelasnya.
"Lonjakan lain tercatat pada tanggal 2, 3, 6, 9, dan 23 Mei dengan masing-masing empat kasus per hari," imbuhnya.
Menurutnya, perubahan iklim semakin memperburuk situasi. Karena suhu dan kelembaban menjadi tempat yang paling disukai nyamuk Aedes aegypti untuk berkembang.
Beberapa langkah yang didorong antara lain edukasi berbasis komunitas dan program Satu Rumah Satu Jumantik. Tujuannya agar warga aktif memantau dan memberantas jentik nyamuk di lingkungannya sendiri.
"Selain itu, pemanfaatan media sosial juga kami maksimalkan untuk penyebaran informasi," katanya.
Baginya, kolaborasi lintas sektor sangat dibutuhkan. Keterlibatan sekolah, tempat ibadah, hingga tempat kerja cukup penting untuk memperluas jangkauan pencegahan.
"Dengan sinergi semua pihak, kami berharap angka kasus DBD bisa ditekan, partisipasi aktif warga jadi kunci utama pengendalian DBD,” pungkasnya. (sai/gun)
Editor : Guntur Irianto