RADAR SIDOARJO - Warga Desa Tropodo, Kecamatan Krian, mengeluhkan gangguan kesehatan yang diduga dipicu oleh asap hitam dari cerobong pabrik tahu setempat.
Asap tersebut berasal dari pembakaran limbah plastik dan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), yang digunakan sebagai bahan bakar dalam proses produksi.
Salah satu warga Dusun Klagen, berinisial AN, mengaku mengalami gejala batuk, sesak napas, dan gatal-gatal hampir setiap hari. Keluhan tersebut juga dialami oleh anaknya sejak masih bayi.
“Saya tinggal di sini, dan anak saya dulu waktu masih bayi sempat mengalami iritasi kulit seperti gatal-gatal, jadi sering rewel,” ungkapnya kepada Radar Sidoarjo.
AN menyebut, banyak tetangganya juga merasakan hal serupa. “Rata-rata warga sini kena ISPA, sesak napas,” tambahnya.
Dinas terkait sebelumnya sempat menerima laporan mengenai tingginya konsentrasi partikel debu halus (PM2.5) di sekitar cerobong pabrik tahu. Partikel berbahaya ini tercatat menyebar hingga radius 300 meter dari sumber emisi.
Keluhan warga didukung data dari Puskesmas Krian, yang mencatat tingginya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Desa Tropodo. Dari Januari hingga April 2025, tercatat sebanyak 212 kasus ISPA dari desa tersebut, tertinggi dibandingkan desa-desa lain di wilayah kerja Puskesmas Krian.
“Penyakit ISPA dari tahun ke tahun selalu masuk 10 besar kasus terbanyak di Puskesmas Krian. Untuk Tropodo, jumlahnya memang tergolong tinggi,” ujar Kepala Puskesmas Krian, dr. Titik Sri Harsasi, saat dikonfirmasi Radar Sidoarjo, Jumat (16/5).
Ia menambahkan, penderita ISPA terbanyak adalah anak-anak, sehingga perlu menjadi perhatian serius. “Ini harus menjadi perhatian bersama,” tegasnya.
Secara keseluruhan, terdapat 2.741 kasus ISPA di Kecamatan Krian dalam empat bulan pertama tahun ini. Kondisi tersebut menegaskan pentingnya upaya menjaga kualitas udara dan kesehatan lingkungan.
Sebelumnya, para pengusaha tahu di Desa Tropodo telah menyatakan komitmen untuk tidak lagi menggunakan bahan bakar dari sampah. Namun, keluhan warga menunjukkan bahwa pengawasan dan penegakan aturan lingkungan harus terus diperkuat. (sai/vga)
Editor : Vega Dwi Arista