RADAR SIDOARJO - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) Sidoarjo mengetatkan jalur afirmasi dalam SPMB 2025.
Pengetatan berlaku untuk jenjang SD dan SMP dengan rincian dua prioritas dan verifikasi lapangan.
"Langkah ini kami ambil untuk memastikan bantuan afirmasi benar-benar diterima oleh siswa dari keluarga tidak mampu, pinsipnya kami ingin jalur afirmasi benar-benar menyasar yang berhak, bukan disalahgunakan,” ucap Kepala Bidang Mutu Pendidikan Dispendikbud Sidoarjo, Netti Lastiningsih, Jumat, (9/5).
Dia menjelaskan, calon siswa jalur afirmasi wajib menyertakan bukti keikutsertaan dalam program bantuan resmi pemerintah.
Bukti berupa kepesertaan BPJS Kesehatan tidak lagi diakui.
Jika tidak memiliki bukti program resmi, maka wajib menyertakan surat keterangan tidak mampu (SKTM) dari RT, RW dan diketahui lurah atau kepala desa. SKTM juga harus dilampiri Pakta Integritas bermaterai yang ditandatangani semua pihak terkait.
“Kami ingin menekan potensi data palsu, pakta integritas jadi komitmen moral semua pihak,” tegasnya.
Khusus jenjang SMP, verifikasi dilakukan oleh tim lintas sektor. Mulai dari panitia sekolah tujuan, koordinator wilayah, kepala sekolah asal, lurah, hingga kasi sosial kecamatan.
"Verifikasi akan dilakukan langsung ke rumah calon murid, bukan hanya sekedar meneliti berkas," terangnya.
Jalur afirmasi dibagi menjadi dua prioritas. Pertama yang meliputi anak asuh, penyandang disabilitas dan murid dari SD/MI yang ditetapkan sebagai sekolah sulit terjangkau.
Sementara itu, siswa yang tidak masuk kategori tersebut masih bisa mendaftar lewat jalur afirmasi sebagai prioritas kedua. Syaratnya harus memenuhi seluruh ketentuan yang berlaku.
"Jika jumlah pendaftar melebihi daya tampung, seleksi akan dilakukan secara berjenjang, mulai dari zona prioritas, usia tertua, pilihan sekolah, hingga waktu pendaftaran," katanya.
Dispendikbud menetapkan tujuh SD/MI sebagai sekolah sulit terjangkau. Di antaranya SDN Gebang 2, MI Al-Abror Kalikajang (Gebang), SDN Tambak Kalisogo 1, dan SDN Kedungpandan 2 (Jabon).
“Harapan kami, afirmasi benar-benar jadi jembatan kesetaraan, tapi harus objektif, transparan dan terverifikasi,” pungkasnya. (sai/vga)
Editor : Vega Dwi Arista