RADAR SIDOARJO - Bencana banjir di Sidoarjo semakin parah. Di tengah libur lebaran, banjir justru melanda kawasan Desa Tropodo dan Jalan Joyoboyo, Medaeng, Kecamatan Waru, Rabu (2/4).
Hal tersebut menyebabkan aktivitas warga terganggu karena ruas jalan yang terendam banjir.
Informasi yang diterima, banjir yang menggenangi Jalan Raya Tropodo, Waru, Sidoarjo ini sudah terjadi sejak Selasa (1/4), pasca hujan lebat mengguyur kawasan ini.
Banjir hampir setinggi lutut orang dewasa ini disebabkan dari air Sungai Sinir dan Sungai Buntung yang meluap.
Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sidoarjo, banjir cukup parah terjadi di Desa Tropodo, Kecamatan Waru.
Jalan Raya Tropodo, yang merupakan akses alternatif Surabaya-Sidoarjo, tergenang air hingga lebih dari 30 sentimeter. Akibatnya, banyak kendaraan yang mogok saat melintas.
“Pagi ini banjir sudah mulai surut. Namun, tadi malam banyak kendaraan yang mogok karena air cukup tinggi,” ujar salah satu warga setempat, Nurul Hikmah, Rabu (2/4).
Di beberapa titik, seperti Jalan Wisma Tropodo, air masih menggenang hingga sore hari dengan ketinggian mencapai lutut orang dewasa. Banjir ini membuat sejumlah warga sulit beraktivitas di luar rumah.
"Banjir masih cukup tinggi, jadi aktivitas ya terganggu," ungkap perempuan 26 tahun itu.
Sementara itu, Camat Waru, Nawari, mengungkapkan, banjir merendam 10 desa, yaitu Pepelegi, Medaeng, Bungurasih, Waru, Kureksari, Kedungrejo, Janti, Kepuhkiriman, Tambakrejo, dan Tambaksawah.
Nawari menjelaskan, pihaknya telah meminta seluruh kepala desa untuk meninjau kondisi di wilayah masing-masing dan melaporkan perkembangannya. Menurut pantauannya, ada penurunan debit air di beberapa titik, seperti di Kureksari.
Ia menegaskan, penyebab utama banjir adalah hujan deras yang berlangsung lama, ditambah dengan kenaikan permukaan air laut. “BMKG Juanda sudah mengimbau adanya cuaca ekstrem dalam sepekan terakhir," sebutnya.
Oleh karena itu, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk mengatasi permasalahan banjir tersebut.
"Hari ini kami berkoordinasi dengan OPD terkait agar masalah ini bisa segera ditangani dan warga bisa merayakan lebaran dengan tenang,” tambahnya.
Banjir di Kecamatan Waru, terutama di Desa Tropodo, bukan pertama kali terjadi. Menurutnya, banjir hampir selalu melanda kawasan ini setiap musim hujan. Salah satu penyebab utamanya adalah sistem irigasi yang kurang optimal.
“Saluran irigasi di kawasan ini tidak berfungsi dengan baik karena banyak bangunan liar yang dimanfaatkan oleh pedagang kaki lima. Hal ini membuat air sulit mengalir, sehingga banjir selalu terjadi saat hujan deras,” keluhnya.
Warga Perum Wisma Tropodo, Huda juga mengeluhkan kondisi ini. Pasalnya, setiap hujan lebat mengguyur, kawasan Tropodo tak pernah absen dari banjir.
"Setiap hujan deras musti begini (banjir, red). Mungkin karena saluran air di sini kurang maksimal," ungkap pria 40 tahun itu.
Warga lainnya, Rina menyebut bahwa banyak warga akhirnya memilih untuk meninggikan rumah mereka guna menghindari genangan air.
"Kami berharap pemerintah Kabupaten Sidoarjo segera mencari solusi agar banjir ini tidak terus berulang. Kasihan warga yang setiap tahun harus berjuang menghadapi genangan air,” ujarnya.
Selain Kecamatan Waru, banjir juga menerjang Kecamatan Sedati, terutama di Perumahan Griya Kartika, Desa Cemandi. Camat Sedati, Abu Dardak, menyatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan BPBD Sidoarjo dan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Sumber Daya Air (DPUBMSDA) untuk menanggulangi banjir.
“Pak Bupati beserta pihak dinas dan BPBD Sidoarjo sudah datang meninjau lokasi,” katanya.
Di Kecamatan Sedati, empat desa yang terdampak banjir adalah Cemandi, Betro, Semampir, dan Sedati Gede. Ketinggian air di wilayah ini bervariasi antara 20 hingga 30 sentimeter. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista