Darjo Nyel Ekonomi & Bisnis Features Jatim Kota Delta Kriminal Delta Lifestyle Pendidikan Peristiwa Person of The Year Politika Sport & Health

Disabilitas Bukan Halangan Bagi Nabilatul Warga Gedangan, Sidoarjo

Diky Putra Sansiri • Rabu, 15 Januari 2025 | 01:56 WIB
CERDAS : Nabilatul penyandang disabilitas yang pantang menyerah dengan keadaan. (IST/RADAR SIDOARJO).
CERDAS : Nabilatul penyandang disabilitas yang pantang menyerah dengan keadaan. (IST/RADAR SIDOARJO).

SIDOARJO - Nabilatul Fadilah, seorang gadis penyandang rungu wicara, menjadi sosok inspiratif bagi banyak orang dengan perjuangannya dalam meraih pendidikan tinggi dan berkontribusi di dunia disabilitas.

Perempuan berusia 26 tahun itu mengenyam pendidikan di TK SLB, SD Negeri, hingga SMA Negeri 1 Gedangan. Setelah berhasil diterima di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melalui jalur SNMPTN, Nabila memilih untuk mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV).

Lulus dengan predikat Cumlaude dan IPK 3,63, Nabila kemudian meraih beasiswa S2 dari Rektor Unesa untuk melanjutkan studi. Kini, Nabila berproses untuk menyelesaikan kuliahnya di jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB).

"Meski saya satu-satunya mahasiswa rungu wicara di jurusan DKV, saya tidak merasa minder. Teman-teman kuliah selalu mendukung saya, dan dosen pun sangat membantu. Saya merasa enjoy dan semangat dalam kuliah," ujar Nabila, Minggu (5/1).

Dia mengungkapkan, meskipun sempat menghadapi tantangan dalam penelitian tugas akhir selama pandemi Covid-19, dia tetap berusaha keras menyelesaikan studi S1 tepat waktu.

"Saya sangat bersyukur bisa lulus dengan predikat cumlaude dan mendapatkan beasiswa S2 dari Unesa. Itu adalah anugerah yang luar biasa," kata perempuan yang tinggal di Magersari Permai, Sidoarjo itu.

Proses awal perjalanannya hingga dapat meraih beasiswa S2 ini tidak lepas dari dukungan orang tua, dosen, dan teman-teman kuliah. 

Perempuan kelahiran Sidoarjo itu juga bercerita tentang guru SMA-nya, yang bernama Rukmini Ambarwati, yang berperan besar dalam mendukung perjuangannya, termasuk dalam hal komunikasi dengan pihak universitas.

"Beliau selalu memberikan motivasi dan mendampingi saya, tidak hanya saat di SMA, tetapi juga saat mendaftar kuliah. Beliau terus mendukung saya sampai saat ini," urainya.

Setelah lulus S1, Nabila memutuskan untuk melanjutkan studi S2 di jurusan Pendidikan Luar Biasa. Pilihan ini muncul setelah pertimbangan mendalam, karena pada awalnya, dia sempat berniat untuk melanjutkan studi di jurusan Manajemen. 

Baca Juga: Vidy Vicessa Alviyah, Perempuan Asal Sidoarjo yang Bijak Mengatur Bisnis dan Karir

Namun, karena belum ada fasilitas yang memadai untuk mendukung disabilitas tuli di jurusan tersebut, dia akhirnya memilih PLB untuk berkontribusi langsung dalam pendidikan inklusif.

"Saya ingin membantu mengembangkan sistem pendidikan yang setara dan dapat memenuhi hak teman-teman disabilitas. Saya ingin berperan dalam menciptakan kurikulum pendidikan yang inklusif," paparnya.

Lebih lanjut, masih kata Nabila, dia mempunyai pengalaman berharga yakni selama mengikuti program observasi pendidikan inklusif di Malaysia.

Melalui program internship di Malaysia, Nabila mendapat kesempatan untuk mempelajari implementasi pendidikan inklusif di luar negeri, yang semakin menguatkan niatnya untuk terus berjuang dalam bidang ini.

"Pengalaman di Malaysia membuka mata saya tentang berbagai praktik pendidikan inklusif yang sangat berharga untuk pengembangan diri saya," tuturnya.

Selain kuliah, Nabila aktif dalam organisasi PUSBISINDO (Pusat Bahasa Isyarat Indonesia) dan komunitas Tuli. Di sisi lain, dia juga bekerja sebagai desainer grafis di PT Penta Grup Indonesia sejak 2021. 

Perempuan kelahiran 6 September 1998 itu berharap dapat menjadi seorang sociopreneur yang mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat, khususnya teman-teman disabilitas.

"Harapan saya ke depan adalah membuka peluang kerja bagi teman-teman disabilitas, serta mengembangkan pendidikan inklusif yang lebih baik. Saya juga berharap bisa melanjutkan studi ke jenjang S3 dan menjadi dosen di Pendidikan Luar Biasa atau menjadi PNS untuk memperjuangkan hak-hak disabilitas," tutupnya.

Dia juga berharap, dapat menjadi bagian dari pengembang kurikulum pendidikan agar dapat menciptakan pendidikan yang inklusif serta lingkungan yang semakin ramah disabilitas di Indonesia.

Dengan perjalanan hidup yang penuh inspirasi ini, Nabilatul Fadilah menunjukkan bahwa dengan tekad, dukungan orang-orang baik, dan semangat yang tidak pernah padam, segala keterbatasan dapat diatasi untuk meraih impian dan memberikan manfaat bagi sesama. (dik/gun)

Editor : Guntur Irianto
#Perempuan #Tokoh #inspirasi #inspiratif #wanita #Disabilitas