SIDOARJO – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda memperpanjang operasi modifikasi cuaca untuk mengurangi dampak buruk bencana hidrometeorologi.
Kepala BMKG Juanda, Taufiq Hermawan, menjelaskan bahwa operasi ini masih berlangsung dengan melibatkan tim dari BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan vendor penerbangan.
"Modifikasi cuaca bertujuan untuk mengurangi intensitas hujan di Jawa Timur, mengingat Desember merupakan puncak musim penghujan. Begitu juga Januari dan Februari," ujarnya, Minggu (29/12).
Taufiq menjelaskan, upaya ini dilakukan untuk menekan curah hujan di wilayah daratan. Dengan penurunan intensitas hujan, diharapkan dampak bencana hidrometeorologi seperti banjir dan genangan air dapat diminimalkan.
"Modifikasi cuaca juga membantu percepatan surutnya banjir dan genangan," jelasnya.
Ia menambahkan, metode ini dilakukan secara ilmiah dengan fokus pada pengamatan pertumbuhan awan hujan yang memasuki wilayah Jawa Timur. Awan tersebut kemudian dialihkan ke wilayah lautan untuk mengurangi intensitas hujan di daratan.
"Awan hujan diarahkan ke wilayah Selat Madura. Dengan demikian, hujan di daratan Jawa Timur dapat dikurangi," terangnya.
Lebih lanjut, Taufiq mengungkapkan bahwa intensitas hujan di wilayah daratan diharapkan menurun sehingga daerah-daerah yang terdampak banjir atau genangan air dapat pulih lebih cepat.
"Meskipun begitu, Jawa Timur masih berada di puncak musim penghujan pada bulan Desember, sehingga potensi bencana hidrometeorologi tetap perlu diwaspadai," tutupnya. (sai/vga)