SIDOARJO - Musim hujan yang berkepanjangan memberi dampak yang kurang baik bagi perajin telur asin di Kampung Bebek Desa Kebonsari, Kecamatan Candi. Curah hujan yang tinggi membuat jumlah produksi telur bebek menurun drastis.
Salah satu perajin telur asin, Sulaiman mengatakan, produksi telur bebek mengalami penurunan lebih dari 50 persen. Dari seribu ekor bebek produktif yang biasanya menghasilkan 600 hingga 700 butir telur per hari, kini hanya mampu menghasilkan sekitar 200 hingga 300 butir saja.
"Cuaca yang tidak menentu, terutama saat musim hujan menjadi penyebab utama penurunan produksi telur," ucapnya saat ditemui Radar Sidoarjo, Rabu (11/12).
Kelembapan udara cukup mengganggu kemampuan bebek untuk bertelur dengan normal. Bahkan, dalam kondisi cuaca yang buruk, bebek bisa mati, karena penurunan daya tahan tubuh.
"Untuk menjaga kondisi bebek agar tetap sehat dan produktif, saya harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli pakan tambahan, seperti udang, cangkang kupang dan keong sawah," jelasnya.
Namun, meskipun biaya produksi meningkat, harga telur asin di pasaran tidak mengalami kenaikan. Telur asin yang biasanya dijual dengan harga sekitar Rp 3.400 hingga Rp 3.500 per butir, tetap dijual dengan harga yang sama.
Kondisi tersebut menambah beban pengrajin telur asin yang harus menanggung biaya lebih tinggi, disisi harga jual yang tidak naik.
Sulaiman berharap, pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap nasibnya. Supaya para pengrajin bisa bertahan di tengah cuaca yang kurang mendukung.
"Kami berharap cuaca segera normal, agar produksi telur bebek dapat kembali meningkat dan mengurangi beban ekonomi yang kami hadapi selama musim hujan ini," pungkasnya. (sai/vga)
Editor : Vega Dwi Arista