Darjo Nyel Ekonomi & Bisnis Features Jatim Kota Delta Kriminal Delta Lifestyle Pendidikan Peristiwa Person of The Year Politika Sport & Health

Kasus Stunting di Sidoarjo Turun, Ini Desa-Desa yang Jadi Lokasi Fokus

M Saiful Rohman • Selasa, 20 Agustus 2024 | 15:05 WIB

 

UNTUK KESEHATAN: Kegiatan imunisasi di Sidoarjo menjadi salah satu upaya menurunkan angka stunting. (IST)
UNTUK KESEHATAN: Kegiatan imunisasi di Sidoarjo menjadi salah satu upaya menurunkan angka stunting. (IST)

SIDOARJO - Angka stunting di Sidoarjo mengalami penurunan yang signifikan. Hal tersebut berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) dan Survei Kesehatan Indonesia (SKI).

Dari tahun 2022 hingga 2023, stunting di Kota Delta turun dari 16,1 persen menjadi 8,4 persen. Meski begitu, angka itu masih jauh di atas target jangka panjang nasional 2045 yang ditetapkan sebesar dua persen.

Kendati demikian, angka tersebut telah melampaui target nasional 2024, yang ditentukan sebesar 14 persen.

Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo, Inensa Khoirul Harahap mengatakan, jumlah tersebut didapatkan dari dua metode. Yakni, melalui survei SSGI dan SKI yang berbasis sampling.

"Pusat merekrut enumerator yang melakukan random sampling di satu desa, menargetkan lima balita, kelima balita tersebut ditemukan stunting, angka stunting di desa itu bisa mencapai 100 persen, namun, jika tidak ada satu pun yang stunting, maka angka stuntingnya hanya lima persen," ucapnya.

Dia menjelaskan, data tersebut bersifat sampel dan digunakan untuk kebutuhan nasional. Sementara Sidoarjo memiliki sistem Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGM), yang dikelola oleh kader kesehatan.

"Data dari EPPGM menunjukkan stunting di Sidoarjo stabil di angka 3,0 persen, meskipun dapat fluktuatif setiap bulan tergantung pada intervensi gizi yang dilakukan," ujarnya.

"Setiap tahunnya, penurunan stunting secara nasional terus diproyeksikan, namun kami masih perlu kerja keras untuk mencapai target jangka panjang tersebut," imbuhnya.

Sementara itu, dalam pemetaan wilayah, Kecamatan Waru tercatat sebagai wilayah dengan kasus stunting terendah di Sidoarjo. Namun, anehnya puskesmas wilayah Waru, yakni Tambakrejo justru tercatat memiliki catatan kasus stunting tertinggi.

Sidoarjo telah menetapkan 15 desa sebagai lokasi fokus (Lokus) stunting. Diantaranya Desa Gampang di Kecamatan Prambon, Desa Tambakrejo dan Desa Mojoruntut di Kecamatan Krembung dan Desa Kedungrejo di Kecamatan Jabon.

Pada 2025, setiap kecamatan di Sidoarjo akan memiliki minimal satu desa yang menjadi lokus stunting. Hal tersebut untuk mempercepat penurunan angka stunting di Kota Delta.

Pemilihan lokus tersebut didasarkan pada risiko stunting. Di mana tingkat kehadiran ibu di posyandu, jumlah ibu hamil dan anak balita. Serta bagaimana akses terhadap air bersih dari PDAM.

"Itu adalah upaya terpadu untuk memastikan peningkatan gizi anak dan pencegahan stunting di masa depan," terangnya.

Program penurunan stunting merupakan bagian dari tanggung jawab wajib Dinkes Sidoarjo. Oleh karenanya semua harus dimulai sejak remaja putri melalui pemberian suplemen dan tablet tambah darah. (sai/vga)

Editor : Vega Dwi Arista
#kecamatan #kasus #Dinkes #Desa #data #Stunting