Unjuk Rasa, Puluhan Warga Desa Kedungpeluk Tuntut Pemkab Sidoarjo Segera Bangun Akses Jembatan yang Ambruk
M Saiful Rohman• Minggu, 21 Juli 2024 | 21:07 WIB
BUTUH SOLUSI : Puluhan warga Desa Kedungpeluk lakukan aksi unjukrasa di lokasi ambruknya jembatan. (M SAIFUL ROHMAN/RADAR SIDOARJO)
SIDOARJO - Puluhan warga Desa Kedungpeluk, Kecamatan Candi melakukan aksi unjuk rasa di lokasi ambruknya jembatan. Mereka menuntut Pemkab Sidoarjo segera membangun jembatan untuk akses jalan warga.
Diketahui ambruknya jembatan membuat warga Kedungpeluk kesulitan dalam menjalankan aktivitasnya. Apalagi kebanyakan warga bekerja sebagai petani tambak.
Koordinator Aksi, Kusnadi mengatakan, warga ingin pemerintah segera membangunkan akses jalan. Karena warga kesulitan dalam mengangkut hasil panen tambak.
"Warga ingin adanya percepatan pembangunan akses warga, setidaknya diberikan bangunan jembatan sementara atau bailey, itu penting untuk mengangkut hasil panen warga petani tambak," ucapnya saat ditemui di lokasi, Minggu (21/7).
Dia menjelaskan, warga resah karena kesulitan dalam mengangkut hasil panen. Ambruknya jembatan membuat warga harus bekerja lebih dengan biaya dua kali lipat.
"Dalam mengangkut hasil panen harus dua kali, sehingga membutuhkan tambahan dana, double," keluhnya.
Tidak hanya itu, jembatan tersebut juga sangat penting bagi warga untuk memperoleh air bersih.
"Akses yang terputus membuat air PDAM telat (menyalurkan air bersih, red)," terangnya.
Kusnadi mengakui, Pemkab sudah ada rencana untuk membangun jembatan sementara. Akan tetapi pengerjaan dimulai tiga bulan ke depan.
Baginya dalam jangka waktu tersebut cukup lama bagi warga. Karena warga memerlukan akses untuk mengangkut hasil panennya. Apalagi hasil panennya nanti diekspor ke berbagai negara.
"Warga ingin pembangunan segera dipercepat agar akses untuk ekonomi Desa Kedungpeluk lancar," harapnya.
Salah satu warga, Muhammad Usman menegaskan, mayoritas warga Desa Kedungpeluk matapencahariannya sebagai petani tambak. Apabila jembatan tersebut tidak segera ada solusinya warga desa yang menggeluti tambak akan bangkrut.
"Jika jembatan baeliy tidak jadi dipasang warga desa yang pekerjaannya ditambak akan merugi," tegasnya.
"Pada saat pengiriman udang ekspor harus tepat waktu, namun karena jembatan ambrol, udang yang akan diekspor tersebut harus dioper ke kendaraan lain, pengoperan itu memakan waktu dan tambah biaya," pungkasnya. (sai/vga)