SIDOARJO - Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Griyo Mulyo di Desa Kupang, Kecamatan Jabon, terancam penuh dalam waktu dekat. Hal ini disebabkan oleh volume sampah rumah tangga yang mencapai 1.200 ton per hari.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Sidoarjo Bahrul Amig mengatakan situasi ini memprihatinkan. "Jika sampah terus menerus dibuang ke TPA tanpa diolah, TPA Griyo Mulyo akan segera penuh dan tidak bisa lagi menampung sampah," tegasnya.
Amig mengungkapkan keprihatinannya atas rendahnya kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah. Berdasarkan survei, 72 persen warga Indonesia tidak peduli dengan sampah. Hal ini diperparah dengan minimnya pengolahan sampah di tingkat rumah tangga.
"Selama ini, proses pengolahan sampah hanya memindahkan dari rumah ke TPA. Kita perlu mengubah pola pikir ini," jelasnya.
Oleh karena itu, Amig mengajak para ketua RT dan RW di Sidoarjo untuk berperan aktif dalam menggerakkan warganya untuk peduli sampah. Dia mendorong pengolahan sampah di tingkat rumah tangga, seperti kompos dan bank sampah.
"Mari kita selamatkan Sidoarjo dari krisis sampah! Kita ubah TPA Griyo Mulyo menjadi tempat pengolahan sampah, bukan hanya tempat pembuangan," ujarnya..
Upaya penyelamatan Sidoarjo dari krisis sampah ini mendapat respon positif dari para ketua RT dan RW. Mereka siap berkolaborasi dengan Pemkab Sidoarjo untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan mengoptimalkan pengelolaan sampah.
Meskipun masih menghadapi berbagai tantangan, Sidoarjo patut berbangga karena sistem pengelolaan sampah di TPA Griyo Mulyo telah diakui oleh Bappenas. TPA ini menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengolah sampah dengan minimal bau.
Krisis sampah di Sidoarjo menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih peduli terhadap lingkungan. (nis/vga)
Editor : Vega Dwi Arista