SIDOARJO - Sejak Desember tahun lalu, Jawa Timur sudah memasuki musim penghujan. Serta Januari dan Februari menjadi puncaknya musim hujan.
Hujan turun sangat deras, disertasi angin kencang dan petir menyebabkan bencana banjir dan angin puting beliung.
Tingginya intensitas hujan disebabkan kondisi muka laut yang lebih hangat. Ditambah lembabnya atmosfir pada lapisan terendah dan tertinggi mengakibatkan terjadinya gumpalan awan.
Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda, Swasti Ayudia Priyatmayanti memprediksi bahwa Februari menjadi puncak dari musim hujan. Karenanya curah hujan akan semakin naik.
Disinggung terkait kapan akan berakhirnya musim hujan, dia menyebut akan terjadi pada April. Hal tersebut jika tidak terdapat gangguan badai seperti El Nino.
"Normalnya untuk Jawa Timur, jika tidak terdapat gangguan misalkan El Nino atau La Nina secara normal umumnya, musim hujan akan berakhir pada bulan April atau Mei," terangnya.
Dia menjelaskan terkait tanda-tanda berakhirnya musim hujan. Yakni curah hujan yang mulai bergeser.
Pada saat musim hujan seperti ini, lanjut Ayudia, pastinya hujan turun pada siang, dan sore malam hari. Akan tetapi jika akan habis maka hujan biasanya terjadi pada dini hari dan pagi hari.
"Saat musim hujan mau habis biasanya tandanya seperti itu," ujarnya.
Ditambah jenis hujan biasanya terjadi pada daerah lokal dengan spot tertentu. Sehingga hujan yang turun tidaklah merata dan akan semakin berkurang.
"Jadi misalkan seminggu atau beberapa hari turunnya hujan akan semakin berkurang," pungkasnya. (sai/vga)
Editor : Vega Dwi Arista