“Program kerja percepatan penurunan stunting di Kabupaten Sidoarjo lebih berkolaborasi, bersinergi sesuai taget sasarannya,” ujar Asisten Administrasi Pemerintah dan Kesejahteraan Rakyat Sidoarjo Muhammad Ainur Rahman.
Menurut Ainur, kolaborasi menunjukkan komitmen kuat untuk menurunkan angka stunting Sidoarjo.
“Sidoarjo dari sensus gizi di angka 14,8. Mudah-mudahan di tahun ini kita bisa menurunkan kasus stunting di Kabupaten Sidoarjo, dengan upaya melakukan intervensi program sesuai dengan tupoksi masing-masing,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo drg Syaf Satriawarman mengatakan, berdasarkan laporan dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur posisi Sidoarjo untuk stunting 7 terbaik se-Jawa Timur. Di angka 14,8 persen dari nilai rayon. Provinsi Jawa Timur sendiri di angka 23,3 persen, Sidoarjo jauh lebih baik.
“Berdasarkan pengukuran yang dilakukan oleh teman-teman gizi Dinas Kesehatan, sebenarnya kita menginjak di angka 7,6 persen. Mudah-mudahan angka ini akan menjadi target di tahun ini untuk disampaikan ke Provinsi,” ujarnya.
Dia menegaskan, untuk target penurunan stunting Sidoarjo tahun ini masih diangka 14 persen. Di tahun 2020 Sidoarjo masih di angka 23 persen, kemudian turun menjadi 14,8 persen. “Harapannya tahun ini bisa turun lagi,” ujarnya.
Sedangkan untuk desa prioritas pencegahan dan penanganan stunting serta intervensi gizi spesifik dan sensitif Kabupaten Sidoarjo tahun 2023 ada 29 Desa. Di antaranya tiga desa masing-masing di Kecamatan Waru dan Krian, empat desa masing-masing di Kecamatan Gedangan, Wonoayu, dan Buduran, satu desa masing-masing di Kecamatan Sidoarjo, Tulangan, Porong dan Krembung, dan tujuh desa di Kecamatan Candi. (nis/vga) Editor : Vega Dwi Arista