Jenazah Cak Nur dimakamkan di pemakaman umum Desa Janti, Waru, Sabtu petang. Ratusan pelayat mengantarkan pria yang dikenal humble itu. "Karakter beliau kalau ada pekerjaan penuh tanggung jawab, bahkan sampai ke bagian teknis. Beliau selalu ingin terjun langsung," kata sahabat karib Nur Ahmad Syaifuddin, M. Suwarno.
Saat tiba di pemakaman, lima orang dengan berpakaiam APD lengkap membawa peti jenazah Cak Nur menuju liang lahat. Selain itu, puluhan Banser terlihat berjaga di depan pintu masuk makam. Tidak semua pelayat diizinkan masuk. Hanya kolega, sahabat, dan keluarga dekat.
Prosesi pemakaman itu dilakukan dengan protokol kesehatan. Peti jenazah diturunkan ke dalam liang lahat. Terdengar satu orang mengumandangkan azan. "Beliau di NU sejak masa sekolah, dari IPNU, Ansor, Banser hingga Pagar Nusa, sewaktu di Banser, almarhum memang dikenal baik," kenang Suwarno, sahabat Cak Nur di Banser.
Usai azan, makam Cak Nur ditutup dengan tanah. Isak tangis nampak mengucur di pipi para koleganya. Tak hanya itu, salah satu tokoh agama yang bertugas membaca doa juga terlihat terbata-bata, seakan tak kuasa menahan rasa sedih. Sahabat dekat Cak Nur di Banser dan Pagar Nusa menabur bunga.
Ratusan pengantar jenazah nampak khusyuk berdoa. Sahabat Cak Nur yang lain, M. Tujianto mengaku, sangat terpukul dan tak menyangka jika sahabatnya di Pagar Nusa itu telah tiada. "Cak Nur itu pernah menjabat Ketua Cabang Pagar Nusa dua periode, yang paling saya ingat waktu ada penggulingan Gus Dur, di Jakarta, tahun 2000. Beliau terdepan sama saya," kenangnya. (far/opi) Editor : Nofilawati Anisa