Darjo Nyel Ekonomi & Bisnis Features Jatim Kota Delta Kriminal Delta Lifestyle Pendidikan Peristiwa Person of The Year Politika Sport & Health

Susilo Generasi Kelima Pelestari Reog Cemandi

Vega Dwi Arista • Sabtu, 21 Agustus 2021 | 12:42 WIB
JIWA SENI: Susilo menunjukkan peralatan yang dipakai saat Reog Cemandi ditampilkan. Terdiri dari gendang, angklung, dua topeng dan senjata yang terbuat dari kayu. (RIZKY PUTRI PRATIMI/RADAR SIDOARJO)
JIWA SENI: Susilo menunjukkan peralatan yang dipakai saat Reog Cemandi ditampilkan. Terdiri dari gendang, angklung, dua topeng dan senjata yang terbuat dari kayu. (RIZKY PUTRI PRATIMI/RADAR SIDOARJO)
Menengok Sanggar Taruna Putra Budaya (1)

Di usia senja semangat pelestari Reog Cemandi ini patut diacungi jempol. Dialah Susilo. Sudah puluhan tahun dirinya bersusah payah mempertahankan kesenian asal Sidoarjo itu agar tidak punah.

Rizky Putri Pratimi, Wartawan Radar Sidoarjo

Reog Cemandi ini muncul dan diciptakan di Desa Cemandi pada 1922. Salah satu desa yang ada di Kecamatan Sedati. Berbeda dengan Reog Ponorogo, dalam kesenian ini tidak ada warok.

Topengnya pun tidak dihiasi bulu merak seperti ciri khas yang ada pada Reog Ponorogo. Irama musik yang dimainkan juga cukup sederhana. Hanya memainkan angklung dan kendang kecil. Dulu, Reog Cemandi dipakai masyarakat untuk mengusir penjajah Belanda.

Tarian tersebut juga sebagai imbauan kepada masyarakat sekitar. Tujuannya agar selalu mengingat Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, kesenian Reog Cemandi juga digunakan masyarakat untuk menolak bala. Minimal satu tahun sekali harus keliling desa. Biasanya di giat bersih desa atau peringatan satu Muharam.

Yang menjadikan kesenian ini khas adalah peralatan yang digunakan saat tampil. Peralatan tersebut asli sejak kesenian Reog Cemandi ini lahir. Terdiri atas enam gendang, dua topeng dan angklung digunakan pemainnya selama turun-temurun.

Sejak zaman penjajahan hingga kini, kelestarian Reog Cemandi masih terjaga. Peran melestarikan kesenian itu sudah dipegang Susilo. Dia menjadi generasi kelima. Sebagai penerus, Susilo sama sekali tidak memiliki ikatan keturunan dari pencipta Reog Cemandi yakni Dul Kadimin.

“Setelah Pak Dul, lalu diteruskan oleh Mudindari. Penerus generasi ketiga yakni Asnapi. Keempat Munaji kelima saya. Sebagai pelestari mereka bukan dari satu garis keturunan. Siapa yang mau meneruskan, itu saja. Tidak harus keturunan asli keluarga Abdul Katimin,” jelasnya.

Pria kelahiran 6 Mei 1953 menceritakan berkecimpung di Reog Cemandi sejak tahun 1990-an. “Tapi waktu ikut-ikutan latihan, karena suka dan memang saya berjiwa seni. Saat generasi tua-tua sudah tidak ada, saya yang meneruskan,” ungkapnya.

Baru di tahun 2015, Susilo mendirikan sanggar tari di rumahnya. Dinamai Taruna Putra Budaya. Kini Susilo memiliki 15 murid yang sudah mahir memainkan kesenian Reog Cemandi.  (*/vga/bersambung) Editor : Vega Dwi Arista
#Reog Cemandi #Generasi Kelima #Kecamatan Sedati #Seni Asli Sidoarjo