Trully Fisichella Ramadhani dan sang ayah, Adhy Suhindra Rachman sangat kompak. Mereka sering ikut casting film. Jika dihitung sudah ratusan casting diikuti. Lokasi di wilayah Jawa Timur hingga Jakarta. Berkat ketelatenan itu keduanya sering mendapat peran bermain di satu film yang sama.
Rizky Putri Pratimi, Wartawan Radar Sidoarjo
Trully sudah menunjukkan bakat di dunia seni sejak di bangku kelas 2 SD. Menyanyi dan modeling adalah dua bidang yang ditekuni saat itu. Prestasi di tingkat kabupaten yakni menjadi Yuk Cilik Sidoarjo 2017 serta Duta Antinarkoba Cilik Surabaya.
Berkat dukungan orang tuanya, gadis kelahiran 18 September 2009 ini akhirnya melebarkan sayap di dunia akting. Kebetulan ayahnya juga punya ketertarikan di dunia peran. Dari situlah keduanya makin kompak ikut casting.
Debut pertama dimulai dari film Perfect Dream di tahun 2017. Berlanjut membintangi film Siap Gan, Aruna dan Lidahnya (2018), Perempuan Tanah Jahanam (2019), serta Bumi Itu Bulat.
"Seperti saat saya ikut antar ke Jakarta anak saya ditawari untuk diorbitkan salah satu production house. Selama dua minggu kita keliling casting. Karena belum rezeki saya pulang ke Surabaya. Lama setelah itu, ternyata saya dihubungi ikut main film Perfect Dream di Surabaya. Akhirnya sekeluarga ikut main film itu semua. Saya, ibu, Trully dan kakaknya," kata Adhy saat dijumpai di kediamannya di Dusun Tanggul Kulon, Desa Tanggul Kecamatan Wonoayu.
Menurut Adhy, saat casting peserta harus memiliki fisik yang prima serta berakting dengan jujur.
"Antre pagi, dapat giliran masuk ke ruangan casting sampai malam. Casting sama dengan melamar pekerjaan. Dapat peran ya berarti diberi kesempatan. Tidak dapat peran, coba casting lagi," imbuh Adhy menceritakan pengalaman casting sebelum adanya pandemi Covid-19.
Selama pandemi, casting dilakukan secara daring. Belum lama ini, dari casting yang dilakoni Trully, ia berhasil mendapat peran sebagai anak dari tokoh utama di film Cinema Without Magic. Sebuah film pendek karya pemuda asal Mojokerto yang saat ini berstatus sebagai mahasiswa tingkat akhir di Institut Kesenian Jakarta.
Cinema Without Magic meraih penghargaan di ajang Word Film Carnival Singapore tingkat dunia tahun 2021. Film yang di sutradarai sekaligus ditulis naskahnya oleh Wahyuddin Hasani Widodo, 22 ini mampu mengalahkan finalis dari berbagai negara lain seperti Filipina dan Australia.
Film pendek ini juga mendapatkan dua penghargaan sekaligus. Yakni Outstanding Achievement Awards untuk kategori Short Films dan Silent Film.
Film berdurasi 15 menit itu juga memperoleh penghargaan di festival film internasional di Mexico, Italia, Finlandia, Argentina dan Singapura. Target selanjutnya festival film internasional di Toronto Amerika Serikat. Tim produksi juga menyasar kompetisi nasional seperti Festival Film Indonesia (FFI) yang akan diselenggarakan September mendatang.
Selain disibukkan dengan festival film, anak bungsu itu bersama tim karawitan SMPN 1 Sidoarjo sedang giat berlatih untuk menghadapi lomba tingkat nasional. Kegiatan itu diselenggarakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Teknologi.
"Meskipun di tengah pandemi, terus semangat belajar dan berprestasi," ajak Trully. (*/vga)
Editor : Vega Dwi Arista