Dua bulan sejak pengumuman hasil Seleksi Nasional Bersama Perguruan Tinggi Negeri (SNBP) menandakan satu tahun sejak saya menerima kabar gembira dari jalur sama dengan nama berbeda, SNMPTN.
Generasi 90-an ke atas mungkin mengenalnya dengan PMDK. Meski berbeda nama, ketiganya merupakan jalur masuk perguruan tinggi negeri tanpa tes, yang menggunakan nilai rapor atau prestasi.
Beberapa waktu lalu, adik kelas saya menceritakan pengalaman SNBP-nya, yang sayang sekali, menuai kegagalan. Padahal, ia telah mengumpulkan sejumlah sertifikat dari berbagai lomba. Saya merasa prihatin karena memahami perjuangan melelahkan untuk masuk perguruan tinggi dengan pilihan program studi (prodi) favorit.
Tahun lalu, saya melakukan hal yang sama. Bedanya saya cukup hoki dan diterima di perguruan tinggi yang sama. Sebagai seorang yang termasuk orang-orang beruntung masuk Universitas Airlangga di prodi dengan tingkat keketatan tinggi, hal ini membuat saya mempertanyakan kredibilitas dan relevansi sertifikat.
Matriks penerimaan secara resmi, kriteria penilaian SNBP diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 48 Tahun 2022 Tentang Penerimaan Mahasiswa Baru Program Diploma dan Program Sarjana pada Perguruan Tinggi Negeri.
Pendaftaran Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) mencakup pencapaian akademik dan atau non-akademik. SNBP dilakukan dengan menilai dua komponen, yaitu komponen pertama, yang dihitung berdasarkan rata-rata nilai rapor seluruh mata pelajaran paling sedikit 50 persen dari bobot penilaian, dan komponen kedua, yang dihitung berdasarkan nilai rapor paling banyak dua mata pelajaran pendukung program studi yang dituju, portofolio, dan atau prestasi paling banyak 50 persen dari bobot penilaian.
Tiap perguruan tinggi negeri diberi hak prerogatif untuk menetapkan: rasio komponen pertama dan kedua tadi; portofolio (khusus prodi seni dan olah raga); beserta prestasi pendukung. Peraturan menteri hanya menentukan kriteria persentase dua komponen tadi dan mata pelajaran pendukung.
Universitas umumnya tidak menjelaskan secara gamblang pembobotan matriks ini pada calon mahasiswa. Hal ini bagaikan perjudian bagi para pelajar karena mereka tidak tahu pasti kriteria yang diutamakan oleh universitas tujuan mereka.
Satu-satunya cara sebenarnya adalah mengusahakan menjadi yang terbaik dalam tiap kriteria. Karena sertifikat lomba merupakan prestasi, maka jelas masuk dalam faktor penilaian. Dalam mengusahakannya, strategi paling manjur adalah dengan mengikuti lomba yang linear dengan prodi yang dituju.
Contoh yang saya ketahui secara riil: penerimaan mahasiswa kedokteran UNAIR dan kompetisi MEDSPIN (Medical Science and Application Competition) yang merupakan olimpiade kedokteran terbesar di Indonesia bagi pelajar SMA. Melalui beberapa sampel dari teman mahasiswa Kedokteran UNAIR, mengikuti MEDSPIN memperbesar kemungkinan untuk masuk ke Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
Benar terbukti, tren mahasiswa yang diterima dalam prodi kedokteran lewat jalur Golden Ticket (sebutan untuk jalur SNBP namun diumumkan terlebih dahulu) dan SNBP selalu mencantumkan nama pemenang lomba MEDSPIN. Dalam angkatan saya, hampir 90 persen teman-teman saya di Fakultas Kedokteran pernah mengikuti MEDSPIN.
Terdapat korelasi antara partisipasi MEDSPIN dan diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Meskipun tidak semua diterima di jalur SNMPTN yang hanya memiliki kuota 50 mahasiswa di angkatan saya, ratusan lainnya berkesempatan masuk pada jalur SBMPTN, Mandiri, maupun Internasional.
SNBP mungkin tampak bagai jalur rahasia untuk siswa-siswa SMA berprestasi gemilang. Namun, selain mengusahakan prestasi terbaik, menurut saya tak ada salahnya untuk menambah usaha: di jalur langit. (*) Editor : Vega Dwi Arista