Kasus anemia ini menjadi pekerjaan rumah Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dan harus dituntaskan secara serius. Sebab jika dibiarkan dalam waktu yang lama, lambat laun bakal berdampak pada naiknya kasus anak bertubuh kerdil atau stunting.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Sidoarjo, Abdillah Segaf Al Hadad menjelaskan, anemia dan stunting erat kaitannya. Kasus stunting tidak hanya dipengaruhi dari asupan gizi anak sejak kandungan hingga 1000 hari kelahiran. Namun kesehatan dari ibu turut mempengaruhi kesehatan janin.
Jika ibu hamil mengidap anemia, maka janin tidak akan tumbuh dengan baik. Janin kurang mendapat nutrisi. Berat badan saat lahir dibawah standar, tumbuh tidak optimal. Sehingga perlu dilakukan skrining sejak remaja untuk mengetahui kasus anemia. Yakni dengan meminta bantuan para guru di SMP dan SMA mengidentifikasi kasus anemia bagi remaja putri yang telah memasuki masa datang bulan.
Jika terdapat kasus anemia Dinkes akan memberikan tablet tambah darah. Cakupan remaja putri atau anak sekolah yang mendapat tablet tambah darah di Sidoarjo sebanyak 67,7 persen.
"Sehingga saat ia menjadi wanita yang matang, siap menikah dan mengandung. Wanita tersebut tidak mengidap anemia," katanya dijumpai di peringatan Hari Gizi Nasional di Pendapa Delta Wibawa, Selasa (16/3).
Selain tablet tambah darah, remaja putri diminta lebih memperhatikan asupan nutrisi dengan mencukupi kebutuhan protein. "Banyak remaja putri takut gendut sehingga mengindari konsumsi daging. Selain sayur, mengkonsumsi daging dan protein lain juga perlu," jelasnya.
Rita Ramayulis seorang ahli gizi menjelaskan pengolahan protein harus diperhatikan. "Hindari konsumsi protein yang digoreng sebab akan mengurangi kandungan gizi pada makanan," terangnya.
Kepala Dinkes Sidoarjo Syaf Satriawarman menegaskan penguatan intervensi spesifik dan sensitif harus dilaksanakan secara terintegrasi dengan sasaran 1000 hari pertama kehidupan dan remaja.
Hingga 2020 kasus stunting di Sidoarjo semakin menunjukkan penurunan. Berdasar Riset Kesehatan Dasar (Rikesda) 2018 pravelensi balita under weight di Sidoarjo sebesar 14,67, pada 2020 sudah 7,2 persen. Balita stunting 27,05 persen dan 2020 turun menjadi 8,3 persen.
Sedangkan pravelensi ibu hamil kurang energi kronis 12,22 persen, pada 2020 menjadi 4,6 persen. Wanita usia subur kurang energi kronis sebesar 12,67 persen. "Persoalan stunting harus dituntaskan dari hulu. Remaja putri jangan sampai menderita anemia," pungkasnya. (rpp/opi)
Editor : Nofilawati Anisa