RADAR SIDOARJO - Ribuan santri dari Yayasan Pendidikan dan Sosial Ma’arif (YPM) tumplek blek di Komplek Ngelom Megare, Rabu (22/10). Mereka memadati halaman sekolah sejak pagi untuk memperingati Hari Santri Nasional 2025 dengan beragam penampilan dan atraksi kolosal.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar dua ribu peserta yang terdiri atas siswa, guru, dosen dan pimpinan lembaga. Mereka berasal dari SMP YPM 1, SMA Wahid Hasyim 2 Taman, SMK YPM 1, SMK YPM 2, SMK YPM 3 Taman, hingga UMAHA.
Wakil Ketua Panitia Acara, Ahmad Mufit S.Sy, M.Pd mengatakan, peringatan tahun ini merupakan kolaborasi seluruh civitas akademika di bawah naungan YPM. “Acara ini menjadi momentum kebersamaan antara siswa, guru, dosen, dan pimpinan lembaga,” ucapnya kepada Radar Sidoarjo.
Menurutnya, peringatan Hari Santri Nasional di YPM sudah dimulai sejak Selasa (21/10) dengan berbagai lomba di masing-masing sekolah. Puncak acaranya digelar Rabu (22/10) dengan apel santri yang diisi menyanyikan lagu ya lal wathon, penampilan pagar nusa, drama teatrikal dan pembacaan Nadhom Alfiyah.
Dalam drama kolosal bertema Revolusi Jihad, para santri menampilkan kisah heroik KH Hasyim Asy’ari yang menyerukan perlawanan terhadap penjajah. Pertunjukan berdurasi sekitar 20 menit itu menggambarkan semangat jihad para santri dalam peristiwa 10 November.
“Hikmah dari drama kolosal ini adalah menanamkan semangat bahwa santri YPM siap menjaga NKRI dan menegakkan Pancasila,” jelasnya.
"Karena itu, kami berharap, semangat perjuangan para kiai terus hidup di dada santri masa kini," imbuhnya.
Pembina apel hari santri YPM, dr. Hidayatullah, Sp. N Dzuriyah pendiri YPM menjelaskan, Hari Santri diperingati setiap 22 Oktober untuk mengenang Resolusi Jihad yang digelorakan KH Hasyim Asy’ari pada 1945. Seruan tersebut menjadi tonggak perjuangan santri yang kemudian memicu perlawanan besar di Surabaya.
“Dari seruan itulah muncul perlawanan besar di Surabaya yang akhirnya menjadi tonggak perjuangan kemerdekaan,” terangnya.
Dia menambahkan, jihad santri masa kini bukan lagi dengan senjata, melainkan melalui pengabdian dan penguasaan teknologi. Karena itu, santri harus mampu berperan lewat inovasi, pendidikan dan kemajuan digital.
Dzuriyah menerangkan, santri di era digital menghadapi tantangan yang sangat besar di tengah isu perpecahan dan intoleransi. Oleh sebab itu, ia mengajak seluruh santri dan kiai untuk menjaga persatuan dengan cara santun dan bijak seperti ajaran ulama terdahulu.
“Santri harus menguasai digitalisasi agar tidak tertinggal, selain ilmu agama, kemampuan teknologi sangat dibutuhkan di masa sekarang," pungkasnya. (sai/nas/vga)
Editor : Vega Dwi Arista