Kepala SMK 2 Antartika Retno Purwo Lystiorini mengatakan, di sekolahnya diterapkan beragam model pembelajaran variatif. Hal itu dilakukan guru untuk membuat pembelajaran bermakna. Serta melibatkan peserta didik secara aktif sekaligus menumbuhkan minat belajar mereka. Model pembelajaran tersebut diantaranya berbasis proyek, inkuiri, model pembelajaran kooperatif tipe Window Shopping. “Proyek belanja ilmu dengan melihat karya kelompok lain, maupun pembelajaran di luar kelas dan lain-lain,” katanya.
Dia menjelaskan, teknologi juga memiliki dampak besar pada pendidikan. Kedua hal ini menjadi semakin tidak terpisahkan karena perannya yang saling berhubungan.
Teknologi dapat dijadikan alat oleh pendidik untuk mempermudah proses pendidikan. Selain itu, peserta didik juga dapat menggali lebih banyak pengetahuan dan melakukan proses pembelajaran yang berbeda. Pembelajaran di kelas dapat dibuat lebih menyenangkan dengan menerapkan inovasi pembelajaran yang didorong oleh kehadiran teknologi.
Pada era digital saat ini, dengan memanfaatkan teknologi dapat menjangkau serta distribusi kebijakan lebih luas. Serta optimalisasi implementasi Kurikulum Merdeka melalui proses pembelajaran berdiferensiasi. “Pemanfaatan teknologi dapat menjadi pilihan guru untuk melaksanakan pembelajaran diferensiasi di dalam kelas,” imbuhnya.
Berbagai cara penggunaan teknologi dalam membuat produk atau konten pembelajaran antara lain penggunaan video pendidikan, pembelajaran audio, multimedia interaktif, dan munculnya Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR). Secara mandiri guru juga dapat mendapatkan semua melalui Platform Merdeka Mengajar. (nis/vga)
Transformasi Pembelajaran adalah proses pembelajaran yang membawa peserta didik lebih dekat dengan kenyataan, menyajikan pengetahuan secara kritis dan reflektif, selanjutnya memposisikan guru sebagai fasilitator untuk memimpin dan mendorong proses pembelajaran. Tujuan pembelajaran transformatif harus dipahami sebagai mengembalikan misi awal pendidikan, yaitu membentuk manusia seutuhnya. Tidak hanya untuk mengembangkan kapasitas individu peserta didik dalam hal aspek kognitif, emosional dan spiritual, tetapi juga untuk menghubungkannya dengan kerangka sosial dan lingkungan di mana mereka memandang diri mereka sendiri. Hal ini sejalan dengan tagline sekolah yaitu berkarakter berkarya dan berprestasi sekolahnya sang juara.
Implementasi kurikulum merdeka memberi ruang pada pemanfaatan teknologi dan media untuk memberikan ruang fleksibilitas bagi satuan pendidikan dalam membuat kurikulum operasional yang kontekstual, sehingga pembelajaran yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik, juga bisa mendorong sekolah, guru, dan orang tua untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih mandiri, inovatif dan kreatif. Sehingga diharapkan peserta didik lebih percaya diri, lebih semangat untuk belajar di sekolah dan mampu mengembangkan bakat sesuai minat peserta didik. Dalam melakukannya dapat memanfaatkan kemajuan teknologi yang tersaji untuk menghadirkan inovasi pembelajaran yang menjawab kebutuhan. (nis/vga) Editor : Vega Dwi Arista