RADAR SIDOARJO - Di tengah kebiasaan masyarakat yang kini lebih akrab dengan scrolling media sosial (medsos) daripada membuka buku, sebuah sudut kecil di lantai tiga hotel justru menghadirkan harapan baru bagi budaya literasi di Kabupaten Sidoarjo.
Sebanyak 150 buku berbagai genre kini tersedia di Pojok Literasi yang resmi dibuka di Aston Sidoarjo City Hotel & Conference Center, Senin (25/5). Mulai dari bacaan anak-anak hingga buku pengembangan diri untuk orang dewasa disiapkan agar tamu hotel maupun masyarakat bisa kembali menikmati budaya membaca.
Baca Juga: Rayakan Hari Kartini, Hotel Aston Sidoarjo Ajak 60 Perempuan Poundfit Penuh Energi
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Kabupaten Sidoarjo Rudi Setiawan menegaskan, kehadiran pojok literasi tersebut bukan murni gagasan pemerintah daerah, melainkan bentuk kepedulian dunia usaha terhadap literasi masyarakat.
“Sebetulnya kita luruskan. Bukan Dinas Perpustakaan yang menggagas, tapi ini adalah bentuk kepedulian teman-teman pelaku usaha khususnya Aston dalam hal ini, bagaimana terus kemudian mereka kepingin berperan untuk ikut andil terhadap pelayanan kepada masyarakat,” ujar Rudi.
Baca Juga: Memasuki Bulan Puasa, Hotel Aston Sidoarjo Kembali Hadirkan Ramadan Food Festival
Menurutnya, Disperpusip hanya memberikan dukungan berupa koleksi buku dan pendampingan literasi. Ia mengaku mengapresiasi langkah Aston yang dinilainya menjadi pelopor kolaborasi literasi di sektor perhotelan di Sidoarjo.
“Nah, sehingga saya terus kemudian mempunyai pikiran, bayangin jika pelaku usaha Sidoarjo mempunyai kepedulian terhadap masyarakat Sidoarjo seperti Aston,” katanya.
Baca Juga: Gelar Wedding Showcase, Hotel Aston Sidoarjo Siap Wujudkan Pernikahan Impian
Rudi menjelaskan, buku yang disediakan terbagi dalam dua segmen utama. Pertama untuk orang dewasa, salah satunya buku The Secret yang disebutnya memiliki pesan tentang pola pikir positif dan hubungan manusia dengan alam.
“Ini bacaan untuk orang tua. Di dalamnya itu hukum tarik-menarik bagaimana kita manusia memperlakukan alam dan alam memperlakukan kita manusia,” jelasnya.
Baca Juga: Ning Sasha Apresiasi Produk UMKM Masuk Hotel Aston Sidoarjo
Sementara untuk anak-anak, disiapkan berbagai buku ringan dan edukatif yang nantinya akan terus diperbarui sesuai minat pembaca.
“Teman-teman Aston nanti akan lebih tahu buku mana yang banyak dicari atau diminati,” imbuhnya.
Rudi juga menyoroti tantangan budaya membaca di era digital. Menurutnya, persoalan saat ini bukan sekadar rendahnya minat baca, melainkan kemampuan masyarakat dalam menyaring informasi.
“Sekarang tugas kita bukan hanya me-push masyarakat gemar membaca, tapi nge-push masyarakat kita filter terhadap apa yang dibaca. Belum tentu yang dilihat di scrolling itu tidak mengandung unsur hoaks,” tegasnya.
Ia berharap kehadiran pojok literasi tersebut dapat mendukung peningkatan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kabupaten Sidoarjo. Terlebih saat ini penilaian IPLM dilakukan berdasarkan kewenangan daerah dan keberadaan perpustakaan yang bisa diakses masyarakat.
“Yang saya dorong mungkin salah satunya di Aston ini sebagai perpustakaan khusus,” katanya.
Sementara itu, General Manager Aston Sidoarjo City Hotel & Conference Center David Eko Susanto menyebut kolaborasi dengan Disperpusip menjadi sesuatu yang baru di dunia perhotelan Sidoarjo.
“Kami pikir ada sesuatu yang menarik yang belum pernah terjadi di dunia perhotelan terutama di Sidoarjo,” ujar David.
Menurutnya, pojok literasi akan dikombinasikan dengan berbagai aktivitas hotel, khususnya untuk anak-anak dan tamu long stay yang menginap lebih dari satu minggu.
“Untuk orang dewasa, kami punya banyak long stay. Jadi nanti bisa dibundling package-kan dengan tamu-tamu profesional yang menginap lebih dari satu minggu,” jelasnya.
Sedangkan untuk anak-anak, pojok literasi akan diintegrasikan dengan kegiatan akhir pekan seperti mewarnai, meronce, hingga table manner anak.
“Nanti waktu kids activity setiap Sabtu-Minggu, selain mewarnai dan meronce, nanti kita bisa pinjamkan buku ini ke anak-anak,” katanya.
David mengakui, tantangan terbesar adalah memastikan buku-buku tersebut benar-benar dibaca dan tidak sekadar menjadi pajangan.
“Percuma kalau sudah kita resmikan tapi buku ini cuma jadi pajangan,” ujarnya.
Ia bahkan menyebut dirinya mulai kembali membiasakan membaca buku sejak mempersiapkan program tersebut.
“Untuk persiapan pojok literasi ini pun akhirnya saya juga melakukan persiapan untuk mulai membaca kembali. Dulu saya suka baca Conan,” tuturnya sambil tersenyum.
David juga mengungkapkan kondisi industri perhotelan di Sidoarjo yang masih didominasi tamu bisnis dan industri, bukan wisatawan liburan. Karena itu, pihaknya terus mencari inovasi agar hotel lebih ramah keluarga dan menarik bagi masyarakat lokal.
“Sidoarjo bukan kota wisata tapi kota industri. Jadi orang yang menginap di perhotelan di Sidoarjo lebih banyak untuk pekerjaan industri,” jelasnya.
Meski demikian, Aston tetap optimistis menghadirkan suasana berbeda melalui berbagai aktivitas keluarga, termasuk pojok literasi.
“Buku adalah teman yang paling sabar, guru yang paling bijaksana, dan jendela yang membuka dunia,” pungkasnya. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista