RADAR SIDOARJO - Di balik kelezatan hidangan khas Lebaran Ketupat, tersimpan potensi risiko kesehatan yang kerap luput dari perhatian. Konsumsi santan secara berlebihan—yang menjadi bahan utama dalam sajian seperti lontong sayur dan opor—dapat memicu berbagai gangguan, mulai dari kolesterol tinggi hingga masalah pencernaan.
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Sidoarjo, dr Lakhsmie Herawati Yuwantina, mengimbau masyarakat agar lebih bijak dalam mengonsumsi makanan bersantan, terutama saat perayaan Lebaran Ketupat.
Baca Juga: Arus Balik Lebaran 2026, Dinkes Sidoarjo Ingatkan Penularan ISPA hingga Demam Berdarah
“Konsumsi santan berlebih dapat meningkatkan kadar kolesterol, menambah asupan kalori, serta memicu gangguan pencernaan seperti mual dan perut kembung,” ujarnya, Senin (30/3).
Menurutnya, santan mengandung lemak jenuh tinggi yang jika dikonsumsi secara berlebihan dapat berdampak serius bagi kesehatan. Bahkan, kondisi tersebut berpotensi memperburuk penyakit yang sudah diderita.
Baca Juga: Antisipasi Demam Berdarah, Dinkes Sidoarjo Bagikan Langkah Pencegahan
“Santan juga dapat memperparah penyakit seperti diabetes, jantung, hingga memicu kekambuhan asam urat,” jelasnya.
Ia menambahkan, sejumlah kelompok masyarakat perlu lebih waspada dan membatasi konsumsi santan. Di antaranya penderita diabetes, penyakit jantung, kolesterol tinggi, hipertensi, lansia, serta individu dengan obesitas.
Baca Juga: Dinkes Pastikan Belum Ada Kasus Virus Nipah di Sidoarjo, Ini Gejalanya
Dinkes Sidoarjo merekomendasikan batas aman konsumsi santan sekitar 1–2 porsi per hari, serta tidak dikonsumsi sekaligus dalam satu waktu. Kombinasi santan dengan makanan tinggi garam juga dinilai berisiko meningkatkan tekanan darah.
“Jika dikonsumsi berlebihan, santan dapat meningkatkan risiko hiperkolesterolemia dan berkontribusi terhadap hipertensi, apalagi bila dikombinasikan dengan makanan tinggi garam,” tegasnya.
Baca Juga: Dinkes Sidoarjo Pastikan Nol Kasus Super Flu
Sebagai informasi, Lebaran Ketupat merupakan tradisi yang dirayakan sepekan setelah Hari Raya Idulfitri. Masyarakat biasanya menyajikan ketupat atau lontong berbahan beras yang dibungkus janur atau daun pisang, lengkap dengan lauk bersantan seperti opor dan sayur lodeh. Selain itu, hidangan lepet berbahan ketan dan kacang tanah juga turut meramaikan meja makan.
Meski demikian, dr Lakhsmie menegaskan masyarakat tetap dapat menikmati hidangan khas tersebut tanpa harus mengorbankan kesehatan, selama menjaga pola makan seimbang.
“Silakan menikmati hidangan Lebaran Ketupat, tetapi tetap perhatikan porsi dan variasi makanan agar kesehatan tetap terjaga,” pungkasnya. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista