SIDOARJO - Setiap tanggal 23 Juni, dunia memperingati Hari Janda Internasional. Di balik momen ini, terdapat kisah-kisah pilu para janda di berbagai penjuru dunia yang harus berjuang melawan kemiskinan, diskriminasi, dan berbagai bentuk kekerasan.
Hari Janda Internasional ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2010 untuk meningkatkan kesadaran tentang pelanggaran hak asasi manusia yang dialami oleh para janda di banyak negara.
Menurut data PBB, terdapat sekitar 258 juta janda di seluruh dunia. Hampir satu dari sepuluh janda hidup dalam kemiskinan ekstrem. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kurangnya akses terhadap pendidikan, pekerjaan, dan sumber daya ekonomi lainnya.
Di beberapa negara dengan tradisi patriarki, para janda sering kali kehilangan hak warisan dan tanah mereka setelah kematian suami. Mereka juga rentan terhadap pelecehan dan kekerasan fisik, seksual, dan emosional.
Di Indonesia, janda sering dikaitkan dengan warna ungu. Anggapan ini telah melekat lama di masyarakat, namun tahukah kamu asal-usul dan makna di baliknya?
Berikut 4 alasan mengapa ungu identik dengan janda:
1. Tradisi Thailand
Salah satu teori terkuat mengaitkan asal mula persepsi ini dengan tradisi Thailand. Di Thailand, ungu merupakan warna duka yang dikenakan oleh janda selama masa berkabung. Tradisi ini kemudian diadopsi oleh masyarakat Melayu dan menyebar ke Indonesia.
2. Makna Warna Ungu
Ungu melambangkan berbagai makna, seperti misteri, spiritualitas, dan kemewahan. Di sisi lain, ungu juga dapat diartikan sebagai kesedihan dan kesepian. Hal ini mungkin menjadi alasan mengapa ungu diasosiasikan dengan janda yang dianggap mengalami masa-masa sulit setelah kehilangan pasangan.
3. Simbol Status Sosial
Pada masa lampau, pewarna ungu terbuat dari siput laut langka yang hanya dapat diakses oleh kalangan bangsawan dan elite. Hal ini menjadikan ungu identik dengan status sosial tinggi. Di Indonesia, janda bangsawan terkadang mengenakan pakaian berwarna ungu untuk menunjukkan status sosial mereka. Lambat laun, asosiasi ini melekat pada semua janda, terlepas dari status sosialnya.
4. Stereotip Masyarakat
Stereotip yang berkembang di masyarakat juga turut memperkuat anggapan ungu sebagai warna janda. Janda sering digambarkan sebagai sosok yang kesepian, terpinggirkan, dan berbeda dari norma sosial. Warna ungu, dengan maknanya yang kompleks, kemudian digunakan untuk merepresentasikan gambaran tersebut.
Perlu diingat bahwa asosiasi ungu dengan janda hanyalah sebuah konstruksi sosial dan tidak selalu mencerminkan realitas kehidupan para janda. Di era modern, banyak janda yang hidup mandiri, sukses, dan bahagia.
Warna ungu pun memiliki makna yang beragam dan tidak harus selalu dikaitkan dengan kesedihan atau kesepian.
Penting untuk menghindari stereotipe dan stigma negatif terhadap janda. Setiap individu, termasuk janda, berhak diperlakukan dengan hormat dan memiliki kesempatan untuk menjalani hidup yang penuh makna. (nis)
Editor : Annisa Firdausi