SIDOARJO - Ketupat menjadi salah satu hidangan ikonik yang selalu hadir di momen Hari Raya Idul Fitri. Bentuknya yang unik dan rasa gurihnya yang khas membuat ketupat menjadi hidangan wajib di momen Lebaran.
Tapi, tahukah Anda dari mana asal usul ketupat dan bagaimana tradisi ini menjadi bagian dari Idul Fitri?
Sejarah dan Makna Ketupat
Ketupat, dengan bentuknya yang rumit, ternyata memiliki sejarah panjang dan makna yang mendalam. Ada beberapa versi mengenai asal usul ketupat, namun yang paling populer adalah terkait dengan Sunan Kalijaga.
Pada masa Wali Songo, Sunan Kalijaga ingin menyebarkan agama Islam kepada masyarakat Jawa. Beliau melihat bahwa masyarakat Jawa saat itu masih melakukan tradisi melarung sesaji di laut selatan sebagai bentuk rasa syukur atas panen.
Baca Juga: Tips Mudik Naik Kendaraan Umum yang Aman dan Nyaman
Sunan Kalijaga kemudian membuat ketupat dari janur kuning yang dianyam rumit. Janur kuning melambangkan kesucian, dan anyamannya yang rumit melambangkan ketakwaan. Beliau kemudian mengganti tradisi melarung sesaji dengan tradisi kupatan, yaitu tradisi makan ketupat bersama setelah Hari Raya Idul Fitri.
Tradisi kupatan memiliki makna simbolis. Ketupat yang dianyam dari janur kuning melambangkan hati manusia yang dihiasi dengan ketakwaan dan kesucian. Memotong ketupat bersama-sama melambangkan persatuan dan saling memaafkan.
Baca Juga: Ini Hal yang Wajib Diperhatikan Saat Mudik Naik Kendaraan Pribadi
Versi Lain Asal Usul Ketupat
Selain versi Sunan Kalijaga, ada beberapa versi lain tentang asal usul ketupat. Salah satunya mengatakan bahwa ketupat berasal dari tradisi masyarakat pesisir yang menggunakan janur untuk membungkus nasi agar tahan lama. Tradisi ini kemudian diadopsi oleh masyarakat Jawa dan menjadi bagian dari tradisi Hari Raya Idul Fitri.
Apapun asal usulnya, ketupat telah menjadi tradisi yang melekat erat dengan Hari Raya Idul Fitri di Indonesia. Ketupat bukan hanya hidangan lezat, tetapi juga simbol makna dan tradisi yang kaya. Ketupat menjadi pengingat untuk selalu menjaga ketakwaan dan kesucian hati, serta mempererat persatuan dan tali silaturahmi di momen Lebaran. (nis)
Editor : Annisa Firdausi