Ketua Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda) Ali Aspandi mengatakan, penyusunan buku tersebut melibatkan 35 penyair. Diharapkan bisa menggairahkan kemunculan penyair-penyair muda di Kota Delta.
Terbagi dalam dua buku, buku pertama adalah kumpulan karya terbaik lima penyair hasil sayembara. Sedangkan buku kedua, berisi kumpulan karya 30 penyair lainnya.
Dimana mereka adalah peserta sayembara penyair muda terbaik Sidoarjo. “Mereka adalah penyair-penyair muda yang kita harapkan akan mengangkat nama baik Sidoarjo di kancah yang lebih luas,” katanya.
Melalui kedua buku ini, Dekesda ibaratnya hanya membukakan pintu. Para penyair muda sendiri yang bakal menentukan nasibnya melalui proses kreatif masing-masing.
Rizka Amalia pegiat sastra Dekesda menjelaskan, dalam sayembara penyair ini, semula komite sastra menarget setidaknya 25 peserta. “Ternyata mengejutkan. Sebanyak 62 penyair muda mendaftar dalam sayembara ini. Jumlah ini menunjukkan gairah luar biasa dari para penyair muda Sidoarjo. Gairah berkarya juga gairah berkompetisi,” jelasnya.
Rizka lantas membeberkan beberapa kelebihan dari puisi kelima pemenang sayembara. Penyair harus memiliki kekayaan bahasa. "Seperti karya Adam Rizkita yang meliuk-liuk, menemukan makna baru, menemukan rima, metafor-metafor yang kaya,” ungkapnya.
Sedangkan pada puisi Bayu Putih, kekuatan terletak pada kelirisan. “Puisi-puisi Banyu Putih bermula dari kesunyian dan kekosongan. Atau empati dan kesedihan. Para juri sangat menikmati puisi-puisi lirisnya,” kata Rizka. (rpp/vga)
Editor : Administrator