SIDOARJO - Gudang bekatul di Pergudangan Jemundo blok E 1, Kecamatan Taman kembali terbakar, Minggu, 7 Juli 2024. Padahal, gudang tersebut berhasil dipadamkan pasca terbakar hebat dua pekan yang lalu.
Api kembali melalap belasan ton bekatul atau serbuk halus sisa tumbukan kulit padi. Meski tidak separah awalnya, namun api yang muncul membuat warga gelisah. Informasi yang dihimpun menyebut, api kembali menyala sejak pukul 05.00.
"Awalnya muncul kobaran api dari dalam gudang," ujar Relawan BPBD Sidoarjo Andriansyah.
Menurut pria 30 tahun itu, api yang awalnya kecil tiba-tiba berubah mulai membesar. Karena objek material yang mudah terbakar, membuat api dengan cepat menyambar dan kepulan asap hitam semakin pekat.
Sebelum api semakin membesar dan dikhawatirkan merambat. Alhasil, orang yang berada di area gudang menghubungi damkar untuk memadamkan api.
"Orang yang berada di dalam gudang langsung menghubungi damkar," tegasnya.
Beruntungnya, kebakaran tidak merembet hingga ke bangunan yang lainnya. Tidak selang lama, damkar datang. Sementara itu, Komandan Pelton Damkar Pos Waru Sutoyo mengatakan, pihaknya merespon dengan cepat laporan kebakaran itu.
"Apinya tidak terlalu besar, hanya saja tersebar di beberapa titik, jadi banyak dan dikhawatirkan merambat," ujarnya.
Masih kata Sutoyo, pemadam yang datang langsung menyemprotkan air ke arah titik api. Mereka berupaya untuk membasahi semua titik agar api tidak menyebar. Pihaknya mengerahkan enam unit mobil damkar untuk proses pemadaman.
"Dari Buduran dua unit, Krian dua unit, Waru satu unit dan Candi satu unit," ungkapnya.
Sementara itu, api kembali berkobar diduga karena adanya kegiatan memotong besi menggunakan blander las potong yang dilakukan oleh pihak gudang. Sehingga, percikan api mengenai tumpukan bekatul di sekitarnya.
"Kendalanya mengambil pasokan air yang jauh dari lokasi, sehingga kami menerjunkan enam mobil damkar untuk mempercepat proses pemadaman," tambahnya.
Setelah lima jam upaya pemadaman, akhirnya api berhasil dijinakkan dan pemadam kembali ke pos setelah memastikan api benar-benar tidak muncul kembali. (dik/nis)
Editor : Annisa Firdausi