Sidak dipimpin langsung Camat Krembung, Dana Riawati. Di sana, petugas gabungan dari Satpol PP, Koramil Krembung, Polsek Krembung menggeledah satu persatu kamar. Petugas kemudian mengecek identitas para penghuni kos.
Rupanya petugas justru mendapati empat orang mahasiswi dan dua mahasiswa yang berada di dalam kamar. Mereka berada tepat di samping kamar lokasi penganiayan terhadap Ervina Krisnaeni terjadi.
Sontak saja petugas pun langsung meminta identitas para mahasiswa yang diketahui sedang menggelar pengabdian itu. "Enggak ngapa-ngapain. Cuma numpang makan saja Bu," ujar salah satu mahasiswa.
Keberadaan para mahasiswa tersebut membuat petugas geram. Sebab garis polisi di kamar sebelahnya masih belum dicopot. Pemilik kos pun dipanggil untuk dimintai keterangannya. Terutama soal pengawasan terhadap penghuni kos.
"Ini kenapa kok ada mahasiswi kumpul satu kamar? Padahal belum selesai kasus kemarin. Viral dimana-mana apa enggak ada pengawasan?," tanya Dana Riawati.
Pemilik kos, Ikhwanto Agus Setiono, 42, mengaku jika ada empat mahasiswi yang kos di sana. Sementara dua mahasiswa hanya datang saat siang hari. Tujuannya untuk menumpang mandi dan makan bersama.
Meski begitu, Camat Krembung, Dana Riawati mengatakan, jika hal itu harusnya dilarang. Sebab mereka tidak memiliki hubungan pernikahan. Terlebih, pemilik kos tak dapat menunjukkan izin usaha dan mengaku tak tahu cara mengurusnya.
"Pokoknya harus diurus izinnya. Kejadian Sabtu malam itu kan pemilik kos harus tahu. Masak juga enggak tahu menahu. Itu tanggung jawab pemilik kos," kata Dana.
Ikhawanto berkilah, jika pihaknya sudah berusaha untuk mengurus perizinan. Hanya saja sewaktu mengurusnya, dia mengaku kesulitan. Meski begitu, dia berjanji akan segera memasang CCTV dan memasang nomor kamar.
Selain memeriksa kos, petugas gabungan juga mendatangi empat warung remang-remang di Dusun Biting dan Dusun Simboan di Desa Mojoruntut Krembung. Di sana petugas memeriksa setiap kamar yang berada di belakang warung.
Petugas mendapati empat kamar yang diduga digunakan sebagai tempat prostitusi. Benar saja, petugas berhasil menemukan dua tas wanita yang ditinggal pemiliknya. Selain itu, setiap kamar terdapat keranjang sampah penuh tisu bekas.
Tak hanya tisu, petugas juga menemukan kondom bekas pakai hingga celana pendek wanita. Barang-barang itu kemudian diangkut petugas, termasuk kasur hingga bantal dan guling. "Kadang cuma tiga orang," ujar Suliatin, pemilik warung.
Di Dusun Simboan, petugas juga memeriksa sebuah warung. Di dalamnya terdapat tujuh kamar yang disekat triplek. Namun petugas tak menemukan satu pun wanita di dalamnya. "Enggak ada Pak. Sudah lama tak membuka kok," aku Sriwati, pemilik warung.
Dari empat warung, dua warung ditutup pemiliknya. Petugas pun tidak dapat menggeledahnya. Dana mengatakan, akan terus menggelar kegiatan serupa. "Karena memang sudah lama. Alhamdulillah Allah tunjukkan melalui kejadian kemarin," bebernya.
Sementara itu, Kapolsek Krembung AKP Imam Yuwono enggan menjelaskan progres penyelidikan kematian wanita asal Kelurahan Perak Barat, RT 06/RW 08, Krembangan, Kota Surabaya tersebut. "Langsung ke Humas Polresta saja ya mas," katanya.
Kasat Reskrim Polresta Sidoarjo AKP Tiksnarto Andaru Rahutomo belum menjawab konfirmasi Radar Sidoarjo. Meski begitu, sumber Radar Sidoarjo menyebut, jika polisi masih berusaha mengindetifikasi pelaku pembunuhan tersebut.
Kasi Humas Polresta Sidoarjo Iptu Tri Novi Handono mengatakan, kasus tersebut hingga saat ini masih dalam penyelidikan petugas. "Masih penyelidikan. Mohon bersabar," katanya. (far/vga)
Editor : Vega Dwi Arista