RADAR SIDOARJO - Dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang berdampak pada ratusan pelajar di Sidoarjo menjadi alarm keras bagi pelaksanaan program tersebut.
DPRD Sidoarjo mendorong pengawasan terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diperketat dan seluruh pengelola wajib menjalankan Standar Operasional Prosedur (SOP) secara disiplin.
Baca Juga: MBG Telat Dikirim Disorot Khofifah, Diduga Penyebab Keracunan Ratusan Santri di Tanggulangin
Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo Dhamroni Chudlori menegaskan, insiden yang terjadi di SPPG Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh.
Menurutnya, program MBG memiliki tujuan yang baik untuk meningkatkan asupan gizi anak-anak. Namun, tujuan tersebut bisa berujung petaka jika pelaksana di lapangan lalai menjalankan prosedur.
Baca Juga: Sembilan Sekolah Termasuk Santri Ponpes Manbaul Hikam Tanggulangin Sidoarjo Terdampak Keracunan MBG
"Sama seperti yang sudah saya sampaikan, bahwa untuk pengawasan pelaksanaan di SPPG-nya itu harus ditekankan benar-benar sesuai dengan SOP. Dan semua pihak yang ada di SPPG itu harus menjalankan prosedur-prosedur yang ada di dalam SOP itu dengan sebaik-baiknya," kata Dhamroni saat melihat kondisi pasien di RSUD RT Notopuro Sidoarjo, Kamis (3/9).
Baca Juga: Total 567 Santri Manbaul Hikam Tanggulangin Sidoarjo Tumbang Diduga Keracunan MBG
Ia menilai dugaan kelalaian dalam pengelolaan SPPG menjadi persoalan serius. Sebab, akibat keteledoran tersebut, program yang seharusnya memberikan manfaat justru membuat ratusan anak harus mendapatkan penanganan medis.
"Ada kelalaian SPPG, yang mana program Pak Presiden yang tujuannya bagus untuk menambah asupan gizi dari siswa, karena kemudian keteledoran dari beberapa orang pengelola SPPG itu. Akhirnya terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan," ujarnya.
Baca Juga: Ketua Asrama Sebut Santri Ponpes Manbaul Hikam Diduga Keracunan MBG dari SPPG Kalitengah Sidoarjo
Dhamroni menyebut, lebih dari 500 pelajar terdampak dalam insiden tersebut. Ia meminta kejadian di SPPG Kalitengah tidak hanya berhenti pada penanganan korban, tetapi menjadi momentum untuk mengevaluasi seluruh pelaksanaan MBG di Kabupaten Sidoarjo.
Menurutnya, evaluasi tidak boleh hanya dilakukan terhadap SPPG yang diduga menjadi sumber persoalan. Seluruh SPPG di Sidoarjo perlu diperiksa untuk memastikan standar pelayanan dan prosedur keamanan pangan benar-benar diterapkan.
"BGN untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh dan tidak hanya di Tanggulangin saja, tetapi di semua wilayah di Kabupaten Sidoarjo untuk langkah antisipasi agar tidak terulang atau terjadi kembali hal-hal seperti yang ada di SPPG Kalitengah itu," tegasnya.
Di sisi lain, Dhamroni juga meminta pelaksanaan program MBG di Sidoarjo tetap diperluas secara merata. Ia menyebut masih terdapat sejumlah sekolah yang belum mendapatkan layanan MBG.
"Secara umum berharap bahwa layanan SPPG ini kayaknya kan masih belum merata. Ada beberapa sekolah memang belum menikmati program MBG dari Pak Presiden ini," ungkapnya.
Karena itu, pendataan dan pemetaan penerima manfaat dinilai perlu segera dilakukan. Dengan demikian, anak-anak yang memang berhak mendapatkan program tersebut dapat terlayani tanpa mengabaikan aspek keamanan dan kualitas makanan.
Sementara itu, dugaan keracunan MBG di Sidoarjo hingga kini tercatat meluas ke sembilan sekolah dan pondok pesantren. Berdasarkan data sementara per 2 September 2026, total sekitar 666 siswa, tenaga pendidik hingga orang tua terdampak.
Ponpes Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, menjadi lokasi dengan jumlah korban terbanyak. Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) Kabupaten Sidoarjo mencatat sebanyak 487 santri terdampak.
Data tersebut masih dinamis seiring proses pendataan dan penanganan korban yang terus dilakukan. Dhamroni pun berharap kondisi para pelajar yang menjalani perawatan segera membaik.
Ia menyebut kondisi pasien berbeda-beda. Sebagian dapat langsung diperbolehkan pulang setelah mendapatkan penanganan, sementara lainnya masih harus menjalani observasi atau perawatan di rumah sakit.
"Memang tergantung dari kondisi fisik masing-masing siswa. Ada yang bisa langsung pulang, kemudian yang harus menginap dulu dan sebagainya. Ya kembali lagi bergantung kepada kekuatan kondisi fisik dari masing-masing pelajar kita," pungkasnya. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi AristaSumber : radar sidoarjo