Asap Hitam TPS3R Wadungasri Waru Sidoarjo Viral, Kades Ungkap Penyebab

Diky Putra Sansiri • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 09:15 WIB
RESPONS CEPAT: Kades Wadungasri Ainur Rofiq bersama Ketua BUMDes dan Ketua TPS3R melihat kondisi TPS3R, Kamis (13/8). (DIKY SANSIRI/RADAR SIDOARJO)
RESPONS CEPAT: Kades Wadungasri Ainur Rofiq bersama Ketua BUMDes dan Ketua TPS3R melihat kondisi TPS3R, Kamis (13/8). (DIKY SANSIRI/RADAR SIDOARJO)

RADAR SIDOARJO - Asap hitam pekat yang mengepul dari cerobong insinerator TPS3R (Tempat Pengelolaan Sampah Reuse, Reduce, Recycle) Desa Wadungasri, Kecamatan Waru, Sidoarjo, setiap pagi, viral di media sosial.

Keluhan warga terkait kualitas udara tersebut langsung mendapat perhatian Pemerintah Desa Wadungasri.

Baca Juga: Pemkab Sidoarjo Siapkan Jaring Sungai dan TPS3R untuk Atasi Gunungan Sampah di Sukodono

Kepala Desa Wadungasri Ainur Rofiq turun langsung mengecek kondisi TPS3R pada Kamis (13/8) siang. Dari hasil pengecekan dan konfirmasi kepada pengelola, asap hitam pekat yang sempat terekam dalam video warga tersebut ternyata bukan kondisi yang terjadi setiap hari.

Ainur menjelaskan, asap hitam muncul akibat kelalaian seorang pemilah baru yang belum memahami prosedur pembakaran. Saat itu, sejumlah kain atau gombal yang seharusnya tidak dibakar justru dimasukkan ke tungku pembakaran.

Baca Juga: TPS3R Bringinbendo Taman Sidoarjo Minta Dukungan Pemerintah

“Sebetulnya tiap hari itu putih, cuma kebetulan waktu itu ada karyawan baru yang belum tahu prosedurnya. Ada kesalahan sedikit,” jelas Ainur.

Menurutnya, pihak TPS3R telah diminta memperketat penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP), terutama dalam memilah sampah yang boleh dan tidak boleh masuk ke tungku pembakaran. Pemilah baru juga akan diberikan sosialisasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

Baca Juga: Lima Tahun Nol Sampah ke TPA, TPS3R Bringinbendo Taman Sidoarjo Olah hingga 7 Ton Sampah per Hari

Ainur juga menyampaikan permintaan maaf kepada warga yang merasa terganggu akibat asap tersebut. Pemdes Wadungasri telah melakukan mediasi dengan warga untuk membahas persoalan tersebut.

“Kami selaku Pemdes, alhamdulillah tadi malam sudah mediasi bertemu langsung dengan warga. Kami juga meminta maaf atas kurang nyamannya di area sekitar TPS3R,” ujarnya.

Baca Juga: Lahan Mangkrak Eks TKD di Bebekan Taman Sidoarjo Bakal Dibangun TPS3R

Selain mengevaluasi proses pembakaran, pengelola TPS3R juga berencana melakukan pembenahan pada cerobong. Ketinggian cerobong akan ditambah dan diameter pipa diperbesar sekitar 10 hingga 12 inci.

Baca Juga: DLHK Sidoarjo Tutup TPA Liar di Trompoasri, Dorong Aktivasi TPS 3R

Ketua TPS3R Desa Wadungasri Edi Sunarto membenarkan bahwa munculnya asap hitam tersebut dipicu kesalahan prosedur. Pria 56 tahun itu mengatakan, ada sekitar tiga kantong berisi kain yang ikut dimasukkan ke dalam tungku oleh pekerja baru.

“Orang ini yang menangani, dia enggak tahu, belum sempat nanya, langsung dimasukkan ke tungku pembakaran. Jadi langsung muncul itu hitam,” ungkap Edi.

Edi menegaskan, tidak semua jenis sampah dibakar di TPS3R. Ban dan styrofoam, misalnya, tidak dimasukkan ke tungku pembakaran. Ban dikumpulkan untuk kemudian dijual, sedangkan sampah yang tidak dapat diproses akan dibuang ke TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) Jabon.

Sementara itu, persoalan asap yang dikeluhkan warga ternyata tidak hanya berasal dari aktivitas TPS3R. Di sebelah utara lokasi tersebut terdapat lahan milik salah satu yayasan pendidikan yang disebut kerap digunakan untuk pembakaran sampah secara liar pada malam hari.

Edi mengatakan, aktivitas pembakaran liar tersebut sudah beberapa kali diperingatkan. Namun, karena lahan yang digunakan merupakan milik pihak yayasan, upaya penghentian pembakaran masih terus dilakukan.

“Pembakaran liar itu sebetulnya kita sudah dari dulu kasih warning, tapi kenyataannya enggak dihiraukan,” katanya.

Menurut Edi, perbedaan ketinggian sumber asap juga membuat warga kesulitan membedakan asal asap. Cerobong TPS3R saat ini disebut telah ditingkatkan dari sebelumnya sekitar 12 meter menjadi 16 meter sesuai standar yang ditetapkan pemerintah kabupaten.

TPS3R Desa Wadungasri sendiri telah beroperasi sejak 2019. Saat ini pengelolaan sampah baru mencakup lima dari total delapan RW yang ada di Desa Wadungasri.

“Sekarang baru lima RW. Mungkin satu hari itu sekitar satu ton per harinya,” terang Edi.

Pemdes Wadungasri memastikan evaluasi akan dilakukan, baik terhadap prosedur pemilahan maupun sistem pembakaran. Langkah tersebut diharapkan dapat mencegah kembali munculnya asap hitam pekat dan menjaga kenyamanan warga di sekitar TPS3R. (dik/vga)

Editor : Vega Dwi Arista
Sumber : radar sidoarjo
cerobong Viral Media Sosial TPS3R Sampah