Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo Bantu Dua Bocah Cerebral Palsy di Tulangan

Diky Putra Sansiri • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 15:02 WIB
PEDULI: Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo Dhamroni Chudlori saat mengunjungi dua anak penyandang Cerebral Palsy (CP) di Desa Grogol, Kecamatan Tulangan.
PEDULI: Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo Dhamroni Chudlori saat mengunjungi dua anak penyandang Cerebral Palsy (CP) di Desa Grogol, Kecamatan Tulangan.

RADAR SIDOARJO - Harapan baru menghampiri dua anak penyandang Cerebral Palsy (CP) dari keluarga kurang mampu di Desa Grogol, Kecamatan Tulangan. Setelah menerima laporan dari kader desa, Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo Dhamroni Chudlori langsung turun ke lapangan untuk memastikan kedua anak tersebut mendapatkan penanganan yang layak.

Tak hanya memastikan keberlanjutan terapi medis, Dhamroni juga mengupayakan bantuan kursi roda melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Sidoarjo. Dalam kunjungan itu, ia turut memastikan seorang warga lanjut usia (lansia), Sulami (71), memperoleh tongkat sebagai alat bantu berjalan.

Baca Juga: Dua Bersaudara di Gedangan Gagal Lanjut Sekolah karena Biaya, Komisi D Desak Dispendikbud dan Dinsos Bergerak Cepat

Kunjungan dilakukan pada Jumat (31/7) setelah Dhamroni menerima laporan mengenai dua anak penyandang CP yang membutuhkan perhatian. Mereka adalah Muhammad Rasyiqul Arzan (5), warga RT 03/RW 03 Desa Grogol, putra pasangan Moh Jakariya dan Ninik Uripa Rawati, serta Arsal Al Azan (3,5), warga RT 02/RW 07 Perumahan Harmoni Kota, Desa Grogol.

Rasyiqul membutuhkan kursi roda dan terapi motorik secara rutin. Sementara Arsal saat ini masih menjalani perawatan di rumah sakit rujukan dan akan terus mendapat pendampingan agar proses terapinya berjalan optimal.

Baca Juga: Komisi D Usulkan Guru SDN Kupang 4 Jabon Sidoarjo Terima Insentif Tiga Kali Lipat

"Saya mendapat informasi dari salah satu kader di Desa Grogol bahwa ada anak penyandang CP dan seorang nenek yang membutuhkan alat bantu berjalan. Karena itu saya langsung datang untuk melihat kondisi sebenarnya. Anak ini memang membutuhkan kursi roda," ujar Dhamroni, Minggu (2/8).

Politisi senior Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Baznas Sidoarjo agar bantuan segera disalurkan.

Baca Juga: Warga Tak Bisa Terima Bansos, Komisi D DPRD Sidoarjo Minta Dinsos Verifikasi Ulang

"Sudah saya koordinasikan dengan Baznas. Insyaallah dalam waktu dekat alat bantu jalan untuk nenek dan kursi roda untuk anak ini segera dikirim," katanya.

Selain bantuan, Dhamroni menekankan pentingnya deteksi dini terhadap tumbuh kembang anak melalui Posyandu. Menurutnya, banyak gangguan kesehatan dapat diketahui lebih awal apabila orang tua rutin membawa anak mengikuti pemantauan kesehatan.

Baca Juga: Komisi C DPRD Sidoarjo Soroti Kebocoran Razia Krengseng Krian

"Potensi anak ini untuk berkembang masih besar. Karena itu orang tua jangan sampai melewatkan Posyandu. Di sana pertumbuhan anak dipantau sehingga jika ada kekurangan atau gangguan bisa segera ditangani," jelasnya.

Ia mengungkapkan, berdasarkan informasi yang diterimanya, Rasyiqul sempat mengalami kejang sejak kecil. Namun kondisi tersebut dianggap biasa sehingga penanganan medis tidak dilakukan sedini mungkin.

"Anak ini sering kejang, tetapi oleh keluarganya dianggap hal biasa. Akibatnya penanganan menjadi terlambat," ujarnya.

Dhamroni memastikan Rasyiqul akan menjalani terapi secara rutin di rumah sakit. Seluruh biaya pengobatan ditanggung BPJS Kesehatan yang masih aktif.

"Dokter bersama Kepala Puskesmas sudah menyampaikan bahwa setelah ini terapi harus dilakukan secara rutin. BPJS pasien masih aktif dan ditanggung pemerintah daerah. Harapannya, dengan terapi yang berkelanjutan dalam dua tahun ke depan kondisinya bisa jauh lebih baik," tuturnya.

Ia menambahkan, terapi motorik dapat dilakukan di RSUD RT Notopuro maupun RS Delta Surya Sidoarjo. Dhamroni juga meminta Pemerintah Desa Grogol bersama Puskesmas Tulangan terus mendampingi keluarga pasien agar proses pengobatan tidak kembali terhenti.

"Perhatian terhadap anak-anak penyandang disabilitas, terutama dari keluarga kurang mampu, adalah tanggung jawab bersama. Kami ingin memastikan tidak ada anak yang kehilangan kesempatan memperoleh layanan kesehatan hanya karena keterbatasan ekonomi atau kurangnya informasi. Pemerintah harus hadir melalui pendampingan, akses layanan kesehatan, dan bantuan sosial," tegasnya.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Tulangan, Teguh Arief Dwiyanto, menjelaskan Rasyiqul sebenarnya pernah menjalani terapi. Namun, karena penanganan CP membutuhkan waktu panjang, terapi tersebut sempat terhenti.

"Pasien ini sebenarnya sudah pernah menjalani terapi. Hanya saja terapi CP membutuhkan proses yang panjang. Kami terus memotivasi keluarga agar terapi kembali dilanjutkan," katanya.

Menurut Teguh, BPJS pasien masih aktif sehingga tidak ada kendala dalam pembiayaan pengobatan.

"Alhamdulillah BPJS masih aktif. Tugas kami sekarang memastikan terapi berjalan secara rutin," imbuhnya.

Sementara itu, ibu Rasyiqul, Ninik Uripa Rawati, mengaku bersyukur karena anaknya kini mendapat perhatian dari berbagai pihak.

"Awalnya saya didaftarkan oleh kader Desa Grogol. Anak saya memiliki riwayat diagnosa CP, kemudian disurvei langsung oleh Bapak Dhamroni," ungkapnya.

Ia berharap pemerintah terus memperkuat pendampingan bagi ibu hamil agar gangguan kesehatan pada anak dapat dideteksi sejak dini.

"Harapan saya pemerintah semakin memperhatikan ibu hamil, karena anak-anak adalah generasi penerus. Saya baru mengetahui anak saya didiagnosis CP saat usianya satu tahun. Semoga ke depan pendampingan kepada ibu hamil semakin baik sehingga kondisi seperti ini bisa diketahui lebih cepat," tutupnya. (dik/vga)

Editor : Vega Dwi Arista
Sumber : radar sidoarjo
cerebral palsy Komisi D Bocah Ketua DPRD