RADAR SIDOARJO - Jejak masa kecil Presiden pertama Republik Indonesia Ir Soekarno di Sidoarjo kembali menjadi perhatian. Sekolah yang diyakini pernah menjadi tempat Bung Karno menimba ilmu, yakni SDN Pucang II Sidoarjo, kini diusulkan untuk ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.
Usulan tersebut menguat setelah sejumlah bukti sejarah menunjukkan bahwa Bung Karno pernah tinggal dan bersekolah di Sidoarjo sekitar tahun 1907. Saat itu, sekolah tersebut dikenal dengan nama Sekolah Ongko Loro Pucang. Bung Karno tercatat menempuh pendidikan di sekolah tersebut selama kurang lebih dua tahun.
PBaca Juga: Hafal 30 Juz dalam Tiga Tahun, Kayla Jadi Bintang Pelepasan 214 Siswa MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo
Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur Hari Yulianto mengatakan, keberadaan SDN Pucang II memiliki nilai sejarah penting karena menjadi salah satu peninggalan yang berkaitan langsung dengan perjalanan hidup Sang Proklamator.
“Berdasarkan data yang ada, Bung Karno pernah bersekolah di Sekolah Ongko Loro Pucang yang kini menjadi SDN Pucang II Sidoarjo. Ini sangat memungkinkan untuk ditetapkan sebagai cagar budaya. Kami terus memperkuat bukti-bukti sejarah sebelum proses penetapan dilakukan sesuai aturan yang berlaku,” ujarnya.
Baca Juga: Jadi Penyebab Sulitnya Normalisasi, Satpol PP Tegur Dua Bangli di Pucang Sidoarjo
Menurut Hari, pelestarian bangunan tersebut bukan sekadar menjaga sebuah gedung lama, tetapi juga merawat memori sejarah dan memperkuat identitas Sidoarjo sebagai daerah yang memiliki keterkaitan dengan perjalanan tokoh besar bangsa.
“Tidak semua daerah memiliki kesempatan menjadi bagian dari perjalanan hidup Bung Karno. Sidoarjo memiliki catatan sejarah karena beliau pernah tinggal dan belajar di sini. Ini menjadi bagian penting untuk dikenalkan kepada generasi muda,” katanya.
Baca Juga: Road Barrier Cegah Parkir Liar, Dishub Sidoarjo Siapkan Drop Zone SDN Pucang
Politikus PDI Perjuangan itu menambahkan, pihaknya bersama Fraksi PDI Perjuangan DPRD Sidoarjo akan terus mengawal proses pengusulan tersebut. Selain pelestarian bangunan, upaya mengenalkan gagasan dan pemikiran Bung Karno kepada masyarakat, khususnya generasi muda, juga akan terus dilakukan.
“Pemikiran Bung Karno tentang kebangsaan, kedaulatan negara, keberpihakan kepada rakyat, hingga konsep Trisakti masih relevan hingga sekarang,” tambahnya.
Baca Juga: MIS Muslimat NU Pucang Sidoarjo Raih Penghargaan Madrasah Internasional Inovatif
Sementara itu, pegiat sejarah Komunitas Sidoarjo Masa Kuno dr Sudi Harjanto menegaskan, keberadaan Bung Karno di Sidoarjo memiliki dasar sejarah yang kuat. Menurutnya, hal tersebut bukan sekadar cerita yang berkembang di masyarakat, tetapi didukung sejumlah bukti.
Beberapa bukti tersebut di antaranya keberadaan bangunan sekolah yang masih berdiri, dokumen perpindahan ayah Bung Karno, Raden Soekemi Sosrodihardjo, serta kesaksian kepala sekolah pada masa itu, Mr PH Claassen.
“Secara literasi sangat kuat. Ada beslit perpindahan ayah Bung Karno dari Ploso ke Sidoarjo dan kemudian ke Mojokerto. Selain itu, ada kesaksian Mr Claassen yang merupakan orang sejaman, ditambah cerita tutur masyarakat sekitar,” jelasnya.
Menurut dr Sudi, berbagai bukti tersebut semakin menguatkan fakta bahwa Bung Karno pernah menjalani masa kecil di Sidoarjo.
“Sejarah boleh saja keliru, tetapi tidak boleh bohong dan tidak boleh dibuat-buat. Fakta bahwa Bung Karno pernah berada di Sidoarjo, meskipun dalam waktu yang tidak lama, merupakan hal yang tidak terbantahkan,” tegasnya.
Selain jejak pendidikan di Pucang, hubungan sejarah Bung Karno dengan Sidoarjo juga tercatat ketika dirinya kembali berkunjung sebagai Presiden RI. Salah satu momen penting terjadi saat Bung Karno meresmikan pabrik tekstil Ratatex (Rahman Tamin Textile) di Balongbendo pada 17 Mei 1958.
Bagi para pegiat sejarah, rangkaian jejak tersebut menunjukkan bahwa Sidoarjo memiliki hubungan erat dengan perjalanan hidup Bung Karno, mulai dari masa kanak-kanak hingga ketika memimpin Indonesia sebagai presiden. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista