Darjo Nyel Ekonomi & Bisnis Features Jatim Kota Delta Kriminal Delta Lifestyle Pendidikan Peristiwa Person of The Year Politika Sport & Health

Harga Plastik di Sidoarjo Meroket hingga 100 Persen Gegara Perang di Timur Tengah

Diky Putra Sansiri • Senin, 6 April 2026 | 16:14 WIB
MEROKET: Pedagang plastik di Pasar Larangan Sidoarjo saat sedang melayani pembeli. (DIKY SANSIRI/RADAR SIDOARJO)
MEROKET: Pedagang plastik di Pasar Larangan Sidoarjo saat sedang melayani pembeli. (DIKY SANSIRI/RADAR SIDOARJO)

RADAR SIDOARJO - Lonjakan tajam harga plastik di Sidoarjo membuat pedagang menjerit. Kenaikan yang mencapai hingga 100 persen dalam beberapa pekan terakhir ini disebut-sebut dipicu dampak konflik di Timur Tengah antara Israel Vs Iran, yang berimbas pada pasokan bahan baku.

Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh para pedagang plastik di Pasar Larangan, Kecamatan Candi. Salah satunya Risky, 25, yang mengaku kenaikan harga terjadi secara bertahap sejak menjelang Lebaran, sebelum akhirnya melonjak drastis saat momen hari raya.

Baca Juga: Satu Stan Pasar Sukodono Sidoarjo Ludes Terbakar, Ini Penyebabnya

“Naiknya sejak Lebaran kurang 10 hari, naiknya bertahap, tapi naik terus sampai sekarang. Puncaknya saat Lebaran itu mencapai 50 persen naiknya. Imbas perang itu," ujar Risky ke Radar Sidoarjo, Senin (6/4).

Ia menjelaskan, harga plastik biasa yang sebelumnya berkisar Rp 23 ribu per kilogram kini melonjak menjadi Rp 46 ribu per kilogram atau naik hingga 100 persen. Sementara itu, plastik tomat yang semula Rp 30 ribu per kilogram kini mencapai Rp 50 ribu per kilogram, atau naik sekitar 66,67 persen.

Baca Juga: HIPMI Sidoarjo Gelar Operasi Pasar Murah di Alun-Alun, Bantu Tekan Harga Sembako saat Ramadan 

Tak hanya itu, kenaikan juga terjadi pada kertas minyak. Dari harga awal Rp 18 ribu per kilogram, kini naik menjadi Rp 24 ribu per kilogram atau meningkat sekitar 33,33 persen.

Menurut Risky, kenaikan ini tidak lepas dari kondisi pabrik yang sempat berhenti produksi selama libur Lebaran dan dampak perang di Timur Tengah. Aktivitas produksi baru kembali berjalan pada 30 Maret 2026, sehingga pasokan sempat tersendat.

Baca Juga: Komisi C DPRD Sidoarjo Dorong Revitalisasi Pasar Krian, Anggarkan Rp 15 M

“Ditambah pabrik-pabrik banyak yang libur, masuk kembali baru tanggal 30 Maret 2026 kemarin,” ungkapnya.

Usaha yang telah dirintis keluarganya sejak 1998 itu kini menghadapi tekanan cukup berat. Lonjakan harga membuat daya beli pelanggan menurun drastis. Bahkan, tak sedikit pembeli yang mengeluhkan kenaikan tersebut.

Baca Juga: Jhon Mena Menggila di GDS, Persela Lamongan Bungkam Deltras Sidoarjo 2-1

“Ya dampaknya pembeli berkurang, banyak pembeli yang protes ke saya. Mereka bilang naiknya kok tinggi sekali,” katanya.

Ia menambahkan, kondisi ini tidak hanya dirasakan dirinya, tetapi juga hampir seluruh pedagang plastik di Pasar Larangan.

“Pedagang plastik di sini rata-rata mengeluh, karena lonjakan tajam ini. Dampaknya sangat merugikan pedagang,” tegasnya.

Risky berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga agar kondisi pasar kembali normal.

“Harapannya pemerintah dapat mencari solusi untuk mengatasi persoalan tersebut dan harga kembali normal lagi seperti semula, tapi mungkin butuh proses,” pungkasnya. (dik/vga)

Editor : Vega Dwi Arista
#Konflik #Pasar #Harga #dampak #plastik