RADAR SIDOARJO - Momen Lebaran Ketupat 2026 membawa berkah tersendiri bagi para perajin tempe di pasar tradisional di Sidoarjo. Permintaan yang melonjak tajam membuat tempe ludes hanya dalam hitungan jam sejak pagi hari.
Lonjakan permintaan ini tak lepas dari tradisi kupatan yang identik dengan sajian ketupat atau lontong, lengkap dengan lauk pendamping seperti tempe. Akibatnya, kapasitas produksi para perajin meningkat drastis dibandingkan hari biasa.
Baca Juga: Tumpeng Tempe Raksasa 14 Meter Guncang Sedenganmijen Krian Sidoarjo
Salah satu perajin tempe, Luqman, mengaku peningkatan permintaan sudah terasa sejak beberapa hari sebelum Lebaran Ketupat. Bahkan saat puncak perayaan, kebutuhan kedelai melonjak hingga dua kali lipat.
“Kalau hari biasa paling habis sekitar 60 sampai 80 kilogram kedelai per hari. Tapi kalau Lebaran sama kupatan bisa sampai 1,5 kuintal,” ujar pria 52 tahun itu, Selasa (31/3).
Baca Juga: Wow, Gunungan Tempe Setinggi 10 Meter Ada di Desa Sendenganmijen Sidoarjo
Ia menambahkan, tempe menjadi salah satu lauk favorit masyarakat selain opor ayam saat momen makan bersama keluarga. Hal ini membuat stok harus terus ditambah agar mampu memenuhi tingginya permintaan.
Tak hanya dari sisi produksi, waktu penjualan pun menjadi jauh lebih singkat. Jika biasanya tempe dijual hingga siang hari, kini dagangan sudah habis sebelum pukul 09.00.
Baca Juga: Safari Ramadan dan Buka Bersama JATA-QU Dusun Tempel
“Mulai jual jam 06.00, biasanya jam 08.00 sudah habis. Paling lama jam 09.00 sudah tidak ada,” jelasnya.
Di sisi lain, para perajin juga menghadapi tantangan kenaikan harga bahan baku kedelai. Luqman menyebut harga kedelai naik dari Rp 9.750 per kilogram sebelum Lebaran menjadi Rp 10.500 per kilogram setelahnya.
Baca Juga: Siswa SMA Antartika Membuat Tempe dalam Workshop P5
Meski begitu, para perajin memilih tidak menaikkan harga tempe secara signifikan demi menjaga loyalitas pelanggan.
“Naik sedikit mungkin iya, tapi tidak bisa banyak. Kalau terlalu mahal nanti pelanggan lari. Yang penting sama-sama jalan, sama-sama untung,” ujarnya.
Hal senada disampaikan perajin lainnya, Ibnu. Ia mengatakan, untuk mengimbangi tingginya permintaan, produksi tempe basah bahkan ditingkatkan hingga dua kali lipat.
“Produksi kita naik dua kali lipat. Soalnya permintaan memang tinggi, apalagi banyak yang kumpul keluarga dan makan bareng,” kata pria 38 tahun tersebut.
Sementara itu, salah satu pembeli, Fransiska, mengaku membeli tempe dalam jumlah lebih banyak dari biasanya untuk kebutuhan Lebaran Ketupat bersama keluarga.
“Alhamdulillah bisa merayakan Lebaran Kupatan bareng keluarga. Tempe ini buat lauk lontong dan kupat, memang sudah jadi tradisi makan bersama,” tandas perempuan 32 tahun itu. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista