Darjo Nyel Ekonomi & Bisnis Features Jatim Kota Delta Kriminal Delta Lifestyle Pendidikan Peristiwa Person of The Year Politika Sport & Health

Industri di Sidoarjo Diminta Bersiap Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah, Kadin Ingatkan Efisiensi Energi

Diky Putra Sansiri • Rabu, 11 Maret 2026 | 15:11 WIB

 Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Sidoarjo, Ubaidillah Nurdin. (FOTO ISTIMEWA)
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Sidoarjo, Ubaidillah Nurdin. (FOTO ISTIMEWA)

RADAR SIDOARJO - Konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah mulai menjadi perhatian kalangan pelaku usaha di daerah. Salah satu dampak yang paling dikhawatirkan adalah potensi kenaikan harga minyak dunia yang dapat memicu meningkatnya biaya operasional industri.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Sidoarjo, Ubaidillah Nurdin, mengingatkan para pelaku usaha agar mulai bersiap menghadapi kemungkinan tersebut. Menurutnya, dunia usaha perlu mengambil langkah antisipatif agar tetap mampu bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi global.

“Perang ini efeknya pasti besar. Kalau kondisi seperti sekarang terus berlanjut, harga minyak dunia kemungkinan akan naik,” kata Ubaidillah saat dikonfirmasi, Rabu (11/3).

Ia menjelaskan, kenaikan harga minyak berpotensi menimbulkan efek berantai pada berbagai sektor ekonomi. Bagi dunia industri, kondisi itu bisa meningkatkan biaya produksi karena banyak sektor yang masih bergantung pada bahan bakar minyak (BBM).

“Kalau harga minyak naik, otomatis biaya lain juga ikut naik. Perusahaan harus bisa melakukan efisiensi agar tetap bertahan. Selain itu juga perlu mencari pasar baru dan terus berinovasi,” ujarnya.

Selain efisiensi energi, Ubaidillah menilai pelaku usaha perlu memperluas pasar dan meningkatkan inovasi agar tetap kompetitif di tengah tekanan ekonomi global.

Kadin Sidoarjo sendiri masih menunggu langkah dan regulasi yang akan dikeluarkan pemerintah sebagai respons terhadap kondisi geopolitik tersebut.

“Kami masih menunggu regulasi dari pemerintah seperti apa. Nanti mungkin akan ada rapat internal untuk membahas langkah-langkah yang perlu diambil, supaya jangan sampai terjadi PHK dalam jumlah besar di Sidoarjo,” jelasnya.

Ia berharap situasi global tersebut tidak sampai memicu gejolak ketenagakerjaan di daerah, khususnya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).

Di sisi lain, Ubaidillah juga menyatakan dukungannya terhadap rencana pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional melalui program biodiesel berbasis kelapa sawit, termasuk rencana peningkatan campuran biodiesel menjadi B50.

“Program biodiesel B50 harus kita dukung. Saat ini kan sudah berjalan B20, artinya 20 persen bahan bakarnya berasal dari dalam negeri,” katanya.

Menurutnya, jika program tersebut berhasil ditingkatkan hingga B50, ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak bisa semakin berkurang.

“Kalau dari 20 persen bisa naik ke 50 persen, kesenjangan kebutuhan minyak kita bisa lebih kecil. Mudah-mudahan ini bisa tercapai sehingga kita tidak terlalu bergantung pada isu-isu luar negeri,” tuturnya.

Ia menambahkan, sebagai negara agraris, Indonesia sebenarnya memiliki modal kuat untuk menghadapi tekanan global selama mampu menjaga ketahanan pangan dan energi secara berkelanjutan.

“Kalau negara sudah punya ketahanan pangan dan ketahanan energi, kita bisa lebih kuat menghadapi kondisi global apa pun,” pungkasnya. (dik/vga)

Editor : Vega Dwi Arista
#Timur Tengah #Perang #Kadin #Industri #iran