RADAR SIDOARJO - Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Sidoarjo pada awal tahun 2026 menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Meski demikian, masyarakat tetap diminta waspada karena potensi peningkatan kasus masih bisa terjadi saat musim hujan maupun masa pancaroba.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo, jumlah kasus DBD pada Januari hingga 10 Maret 2026 tercatat sebanyak 22 kasus. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan periode Januari–Maret 2025 yang mencapai 144 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, Lakhsmie Herawati Yuwantina, mengatakan penurunan tersebut menjadi indikator positif. Namun, kewaspadaan masyarakat tetap diperlukan agar kasus tidak kembali meningkat.
“Dibandingkan tahun 2025, tahun 2026 kasus DBD mengalami penurunan. Total Januari sampai Maret 2025 ada 144 kasus, sedangkan Januari hingga 10 Maret 2026 tercatat 22 kasus,” ujarnya kepada Radar Sidoarjo, Selasa (10/3).
Ia menjelaskan, dari total 22 kasus tersebut sebagian besar terjadi pada Januari dengan 15 kasus. Kemudian enam kasus pada Februari dan satu kasus pada Maret.
Meski jumlah kasus menurun, Dinkes Sidoarjo mencatat adanya satu kasus kematian akibat DBD pada Januari 2026. Korban merupakan seorang pelajar berusia 12 tahun asal Kecamatan Sedati.
“Untuk laporan kematian akibat DBD-Dengue Shock Syndrome (DSS) pada periode Januari hingga 10 Maret 2026 ada satu orang, terjadi pada Januari,” jelasnya.
Berdasarkan wilayah, kasus terbanyak pada 2026 tercatat di wilayah kerja Puskesmas Tambakrejo, Kecamatan Waru, dengan total empat kasus. Sementara pada tahun 2025 lalu, kasus tertinggi berada di wilayah kerja Puskesmas Candi yang mencapai 33 kasus.
Dari sisi kelompok usia, tren kasus juga mengalami perubahan. Pada awal 2026, kasus paling banyak terjadi pada kelompok usia produktif 15–44 tahun dengan 10 kasus, disusul kelompok usia 5–14 tahun sebanyak delapan kasus.
Sementara pada 2025, kasus terbanyak justru terjadi pada kelompok usia 5–14 tahun yang mencapai 212 kasus, disusul usia 15–44 tahun sebanyak 142 kasus.
Menurut Lakhsmie, masih munculnya kasus DBD di masyarakat dipengaruhi beberapa faktor, di antaranya menurunnya daya tahan tubuh serta belum optimalnya penerapan pemberantasan sarang nyamuk.
“Kerentanan terhadap DBD bisa terjadi karena imunitas tubuh menurun dan masyarakat belum menerapkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan metode 3M Plus secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari,” terangnya.
Ia juga mengingatkan bahwa peningkatan kasus DBD biasanya terjadi pada periode Desember hingga Juni, dengan puncak kasus pada Mei. Kondisi musim hujan dan masa pancaroba dinilai sangat mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti sebagai penyebab utama penularan DBD.
Untuk menekan penyebaran penyakit ini, Dinkes Sidoarjo menginstruksikan seluruh puskesmas agar rutin melakukan edukasi kepada masyarakat.
“Kami mengimbau penanggung jawab program di puskesmas untuk melakukan edukasi atau penyuluhan rutin setiap minggu, baik secara langsung maupun melalui media sosial seperti WhatsApp dan Instagram,” katanya.
Selain itu, Dinkes juga mendorong penguatan gerakan pemberantasan sarang nyamuk melalui program PSN 3M Plus serta Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J) dengan melibatkan berbagai pihak.
Setiap laporan kasus dengue yang masuk juga akan ditindaklanjuti melalui Penyelidikan Epidemiologi (PE) sesuai standar operasional prosedur yang berlaku.
“Koordinasi lintas sektor terus kami lakukan untuk menggerakkan kembali PSN 3M Plus secara serentak setiap minggu serta memperkuat Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik,” pungkasnya. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista