RADAR SIDOARJO – RSUD RT Notopuro Sidoarjo kembali menunjukkan kiprahnya sebagai rumah sakit rujukan utama di Jawa Timur. Di tengah tantangan efisiensi anggaran dan pemotongan dana Transfer ke Daerah (TKD), rumah sakit milik Pemkab Sidoarjo ini justru meresmikan dua fasilitas baru: Gedung Double Deck Parkir dan Ruang Operasi Bedah Jantung Terbuka, Jumat (13/2).
Peresmian dilakukan langsung oleh Bupati Sidoarjo, Subandi. Pembangunan fasilitas tersebut menjadi bukti kemandirian finansial rumah sakit melalui pengelolaan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), tanpa mengandalkan dana APBN.
Gedung parkir modern yang dibangun dengan anggaran Rp 24,3 miliar itu dirancang untuk mengurai kepadatan kendaraan di area rumah sakit. Fasilitas ini mampu menampung hingga 235 unit mobil roda empat.
“Alhamdulillah, tahun 2025 ini seluruh visi-misi layanan kesehatan sudah terwujud dan berjalan tepat waktu,” ujar Subandi.
Menurutnya, pembangunan gedung parkir bukan sekadar menambah kapasitas lahan parkir, tetapi juga bagian dari peningkatan kualitas layanan yang lebih manusiawi. Kenyamanan, keamanan, dan kemudahan akses bagi pasien serta keluarga menjadi prioritas.
Subandi menegaskan, meski Kabupaten Sidoarjo menghadapi efisiensi anggaran dari pemerintah pusat, RSUD RT Notopuro mampu membangun secara mandiri berkat tata kelola BLUD yang sehat.
“Kita punya rumah sakit yang mampu mengelola BLUD untuk pembangunan sendiri,” tegasnya.
Ia juga memastikan tidak akan ada penambahan lantai pada gedung parkir demi menjaga estetika dan keselarasan dengan masterplan gedung utama rumah sakit. “Kalau kita tinggikan lagi, nanti desain dan tampak depannya hilang. Kita pertahankan yang sudah bagus ini,” tambahnya.
Target Revitalisasi dan Alat Canggih 2026
Direktur RSUD RT Notopuro Sidoarjo, dr Atok Irawan, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan sejumlah rencana pengembangan untuk 2026. Fokus berikutnya adalah revitalisasi gedung lama yang dibangun pada 2005–2008 serta penambahan ruang isolasi khusus.
“Kami akan menambah satu lantai di Ruangan Mawar Putih untuk isolasi TBC dan gangren. Ini mendesak karena pasien rujukan sering mengantre, sementara pasien TBC harus dipisahkan dari pasien lain,” jelasnya.
Selain pembangunan fisik, pembaruan alat kesehatan (alkes) juga menjadi prioritas. Beberapa peralatan berteknologi tinggi masih dibutuhkan, seperti satu kamar LINAC (Linear Accelerator) untuk terapi kanker dengan nilai hampir Rp 50 miliar serta Cathlab yang harganya mendekati Rp 40 miliar.
“Kami berharap Pak Bupati bisa mengawal anggaran pusat untuk kebutuhan alat-alat tersebut,” ujarnya.
Keberhasilan pembangunan gedung parkir senilai Rp 24,3 miliar dan Gedung Operasi (OK) yang nilainya mencapai lebih dari Rp 70 miliar menggunakan dana murni BLUD pun menarik perhatian banyak pihak.
“Banyak direktur rumah sakit se-Jawa Timur yang heran. Mereka tanya, kok bisa semua dari BLUD? Ini sudah teruji. Bahkan saat pertemuan direktur se-Jatim kemarin, lantai dua langsung penuh 125 mobil,” pungkas dr Atok.
Dengan tambahan fasilitas ini, RSUD RT Notopuro Sidoarjo semakin memantapkan diri sebagai rumah sakit rujukan regional, melayani pasien tidak hanya dari Sidoarjo, tetapi juga dari Pasuruan, Malang, hingga Probolinggo. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista